Kisah Aneh Yukio Mishima, Novelis Terkenal Jepang yang Bunuh Diri dengan Seppuku

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 08 Desember 2020 05:30 WIB
Yukio Mishima. (Foto: Getty Images)
Share :

Mishima pernah memberi tahu istrinya bahwa "Meskipun sekarang saya tidak dipahami, tidak apa-apa, karena saya akan dipahami oleh Jepang dalam waktu 50 atau 100 tahun."

Pada 1949, Mishima hadir pada kancah sastra Jepang dengan Pengakuan Sebuah Topeng, semacam otobiografi terselubung. Novel ini membuatnya terkenal di awal usia dua puluhan.

Novel itu berkisah tentang seorang anak laki-laki lembut dan sensitif yang "ditawan" oleh neneknya. Neneknya sakit dan anak itu dipaksa merawatnya.

Alih-alih bermain di luar dengan anak laki-laki lain, dia dikurung bersama neneknya selama bertahun-tahun dalam kegelapan kamar tidur yang berbau tidak sedap. Pikiran si laki-laki berkembang di ruangan itu. Fantasi dan kenyataan tidak pernah terpisahkan; fantasi bagaikan saudara kembar yang lebih kuat, tumbuh dominan.

Pada saat nenek meninggal dan anak laki-laki itu terbebas, dia menjadi punya ketertarikan pada permainan peran, dengan kehidupan sebagai teaternya. Dia melapiskan fantasi pada kehidupan di sekitarnya.

Pria dan anak laki-laki, terutama yang berotot dan tegas, diberi peran dalam lamunannya yang gamblang, dan sering kali penuh kekerasan.

Sementara itu, ia terobsesi dengan kesesatannya sendiri dan tampil normal. Dia belajar bagaimana memainkan perannya sendiri: "Penyamaran yang kikuk telah dimulai."

Keindahan dan kehancuran

Pengakuan Sebuah Topeng berlanjut hingga akhir masa remaja anak laki-laki tersebut, merinci evolusi yang terjalin dari kehidupan internal dan eksternalnya, serta kebangkitan homoseksualnya.

Dalam banyak hal, ini adalah kunci untuk memahami kehidupan dan karya Mishima di kemudian hari.

Buku ini mengungkapkan akar dari sensibilitas estetika Mishima, yang sangat terkait dengan seksualitasnya, yang terbukti menjadi obsesi yang mengarahkan Mishima.

Narator menulis bahwa anak laki-laki itu "secara sensual menerima kredo kematian yang populer selama perang". Masa perang, ketika wajib militer dan pengorbanan diri tampaknya pasti dan akan segera terjadi.

Mishima memang terpaku pada gagasan bahwa kecantikan itu paling indah karena fana, dan hanya selangkah dari kehancuran.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya