MALANG - Warsono hanya bisa pasrah melihat rumahnya roboh terkena gempa. Wilayah tinggalnya di Desa Wirotaman, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur menjadi daerah terparah terdampak gempa berkekuatan magnitudo 6,1 SR.
Sambil memunguti barang - barang yang masih bisa diselamatkan Warsono, petani berusia 67 tahun ini bercerita keluh kesahnya menjelang Ramadan tiba. Rumah yang ditinggali sudah tak bisa ditempati lagi, kerusakan hampir menyentuh 80 persen.
Hanya bagian tembok samping kiri kanannya saja yang masih tersisa itu pun dengan retakan yang begitu tampak. Alhasil ia bersama tetangganya yang juga mengalami kerusakan cukup parah, terpaksa tidur di terpal yang didirikan di halaman belakang pekarangan rumah.
"Tidurnya di sini kalau malam. Nggak berani tidur dekat dengan bangunan, takut kalau pas roboh ada gempa lagi," ungkapnya.
Menurutnya, menjelang puasa Ramadan kali ini adalah hari - hari yang terberat bagi dirinya dan istri. Selain rumahnya yang habis roboh terdampak gempa, Warsono harus merasakan gagal panen kopi di kebunnya.
"Nelongso, nelongso mas. Kemarin kopi panennya nggak hasil. Sekarang ketambahan kayak gini. Sudah habis nggak punya apa - apa. Biasanya panen 7 - 8 kwintal,kemarin nggak hasil," ucap Warsono ditemui okezone.
Baca Juga: Usai Gempa, Banyak Warga Malang Tetap Pilih Tinggal di Rumah
Ia pun kini mengaku tidak punya apa - apa dan menunggu bantuan dari beberapa pihak yang datang. Disebutkannya, Warsono sudah tak sanggup lagi membangun rumahnya sendiri. Selain tenaganya yang sudah mulai terkuras akibat usia, ia kini tak memiliki apa - apa.
"Sampun mboten kagengan nopo - nopo mas (sudah tidak punya apa - apa). Namung wonten pajeng niku mawon mangke ingkang damel dandan griyo (hanya punya kayu itu saja, untuk bahan memperbaiki rumah). Motor setunggal niki nggeh rusak kerubuhan griyo (motor satu - satunya juga rusak kerobohan rumah)," kata Warsono, sambil menunjukkan kayu - kayu yang sedianya memang digunakan memperbaiki rumah menjelang lebaran.
Dengan dibantu oleh tetangga - tetangga, personel TNI dan polisi, Warsono membersihkan puing - puing rumahnya sambil berharap ada benda berharga yang masih tersisa dan dapat dimanfaatkan kembali. Meski demikian ia bersyukur dirinya dan istri bisa selamat dari gempa dengan guncangan cukup kuat yang terjadi pada Sabtu siang 10 April 2021 lalu.
"Alhamdulillah tasik selamet kulo kaleh ibu (Alhamdulillah masih selamat saya dan istri)," kata warga RT 11 RW 3 Dusun Sukodadi, Desa Wirotaman ini.
Warsono mengisahkan bagaimana ia begitu panik lantaran tak menyangka ada gempa sedemikian kencang yang membuat rumah yang dibangun sejak tahun 1989 roboh. Saat terjadi gempa Sabtu itu, Warsono tengah duduk di teras samping rumahnya.
"Saya saat itu sedang duduk di kursi teras samping rumah. Tiba - tiba ada goyangan kencang sekali, dua kali goyangannya. Yang (gempa) kedua itu saya melarikan diri ke halaman rumah. La ibu (istrinya, red) di dalam rumah sedang ngemong (menjaga) cucu. Alhamdulillah semua selamat," tuturnya.
Dirinya menyatakan, telah ada pendataan akibat kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa. "Sudah ada pendataan, semoga segera dapat bantuan dan bisa segera diperbaiki rumah saya," tuturnya.
Sementara itu, warga Desa Wirotaman lainnya yang juga terdampak Edi Sungkowo pasrah bagaimana nasibnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Gempa yang merobohkan rumahnya membuatnya berpikir bagaimana bisa kembali membangun rumahnya.
"Sementara saya tinggal mengungsi ke rumah kerabat. Sambil menunggu perbaikan rumah. Semoga ada bantuan, apalagi ini kan mau puasa dan lebaran juga," keluh Edi, warga RT 2 RW 1 Desa Wirotaman.
Ia pun berharap ada bantuan uang dan bahan makanan, mengingat begitu banyaknya anggota keluarganya yang menghuni satu rumahnya. "Sehari - hari tinggal 7 orang, sama anak dan cucu juga di sana. Semoga ada bantuan," ujar pria yang berprofesi sebagai petani ini.
Warsono dan Edi Sungkowo menjadi salah satu terdampak gempa di Kabupaten Malang, dimana kerusakan yang dialami rumahnya mencapai 80 persen lebih.
(Khafid Mardiyansyah)