Warsono mengisahkan bagaimana ia begitu panik lantaran tak menyangka ada gempa sedemikian kencang yang membuat rumah yang dibangun sejak tahun 1989 roboh. Saat terjadi gempa Sabtu itu, Warsono tengah duduk di teras samping rumahnya.
"Saya saat itu sedang duduk di kursi teras samping rumah. Tiba - tiba ada goyangan kencang sekali, dua kali goyangannya. Yang (gempa) kedua itu saya melarikan diri ke halaman rumah. La ibu (istrinya, red) di dalam rumah sedang ngemong (menjaga) cucu. Alhamdulillah semua selamat," tuturnya.
Dirinya menyatakan, telah ada pendataan akibat kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa. "Sudah ada pendataan, semoga segera dapat bantuan dan bisa segera diperbaiki rumah saya," tuturnya.
Sementara itu, warga Desa Wirotaman lainnya yang juga terdampak Edi Sungkowo pasrah bagaimana nasibnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Gempa yang merobohkan rumahnya membuatnya berpikir bagaimana bisa kembali membangun rumahnya.
"Sementara saya tinggal mengungsi ke rumah kerabat. Sambil menunggu perbaikan rumah. Semoga ada bantuan, apalagi ini kan mau puasa dan lebaran juga," keluh Edi, warga RT 2 RW 1 Desa Wirotaman.
Ia pun berharap ada bantuan uang dan bahan makanan, mengingat begitu banyaknya anggota keluarganya yang menghuni satu rumahnya. "Sehari - hari tinggal 7 orang, sama anak dan cucu juga di sana. Semoga ada bantuan," ujar pria yang berprofesi sebagai petani ini.
Warsono dan Edi Sungkowo menjadi salah satu terdampak gempa di Kabupaten Malang, dimana kerusakan yang dialami rumahnya mencapai 80 persen lebih.
(Khafid Mardiyansyah)