JAKARTA - Aksi terorisme dan radikalisme yang terjadi di Indonesia maupun di berbagai penjuru dunia menyadarkan kita tentang masih rapuhnya perdamaian dan toleransi.
Aksi terorisme seperti yang baru-baru ini terjadi di Makasar, telah mencoreng Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, cinta damai, serta penuh toleransi.
Dan sayangnya masih banyak kaum muda yang terlibat dan menjadi pelaku aksi-aksi kekerasan tersebut, bahkan dengan mengorbankan nyawa sendiri.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menunjukan usia pelaku teror di Indonesia yang masih muda, yaitu 11,8% berusia di bawah 21 tahun dan 47,3% di rentang usia 21-30 tahun.
Banyak aktivitas yang sudah dilakukan berbagai pihak untuk memupuk persaudaraan, meningkatkan toleransi dan menyebarluaskan budaya perdamaian. Kaum muda juga terlibat dalam berbagai kegiatan tersebut. Namun nampaknya masih perlu upaya lebih keras lagi untuk memerangi aksi radikalisme dan intoleransi, karena masih ada pihak-pihak yang melakukan eksploitasi atas perbedaan-perbedaan di tengah masyarakat.
"Kita mencatat bahwa di era digital ini, internet, media sosial dan berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian dari keseharian hidup kaum muda jaman now," jelas Dubes Indonesia Untuk Tahta Suci, L Amrih Jinangkung, dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4/2021).
Menurut Amrih, Internet dan media sosial menjadi sarana penting untuk menyebarkan berbagai sikap positif dalam kehidupan bermasyarakat, dialog antar agama dan budaya, semangat perdamaian serta persatuan.
"Tetapi fakta juga menunjukkan bahwa internet telah dimanfaatkan untuk upaya-upaya negatif, seperti penyebaran faham radikalisme hingga rekrutmen anggota oleh kelompok-kelompok radikal," jelasnya.
Keprihatinan atas berbagai aksi kekerasan dan terorisme di atas telah mendorong KBRI Vatikan untuk berkontribusi positif melalui webinar, guna mendorong peran aktif kaum muda sebagai aktor penting dalam penyebaran budaya damai, toleransi dan persaudaraan.
Webinar internasional yang akan dilakukan secara virtual ini juga dimaksudkan untuk menyebarluaskan ke dunia internasional mengenai contoh konkret toleransi beragama dan perdamaian di Indonesia yang memiliki kemajemukan budaya dan agama.