Sebelum ambruk, ruang kelas VI DTA di Madrasah Nuurul Jabbar kondisinya cukup memprihatinkan. Sebagian kayu penyangga pada atap bangunan sudah lapuk dimakan rayap. Meski tidak layak, bangunan tersebut masih dipakai untuk kegiatan belajar siswa.
Selain itu, kata Fadly, didekat ruang kelas tersebut terdapat beberapa pohon bambu. Bila ada angin kencang, atap tersebut sering tertimpa pohon bambu yang roboh.
"Kondisi (kayu) sudah keropos semuanya, kena rayap dan tidak layak digunakan. Ambruk akibat angin kencang, karena lagi musim kemarau. Ditambah dekat aliran sungai yang deras. Juga ada pohon bambu juga," ujar Fadly.
Fadly melanjutkan, bangunan madrasah didirikan sekitar tahun 1990 dan baru direnovasi pada tahun 2010. Meski demikian, bangunan tersebut mudah ambruk karena kondisi kayunya sudah lapuk.
"Dari pekerja juga sudah tidak mampu memperbaikinya. Kita sempat menyanggahnya menggunakan tongkat kayu. Direnovasi baru satu kali waktu tahun 2010," tuturnya.