Permintaan Hatta Bangun Masjid Istiqlal di Jalan Thamrin Ditolak, Soekarno Ingin di Samping Gereja Katedral

Tim Okezone, Jurnalis
Selasa 22 Februari 2022 07:05 WIB
Masjid Istiqlal/ Foto Setkab
Share :

MASJID Istiqlal genap berusia 44 tahun pada hari ini Selasa (22/2). Masjid ini menjadi salah satu simbol kemerdekaan dan keberagaman Indonesia. Masjid yang berdiri di lahan bekas Taman Wilhemina ini juga jadi destinasi wisata religi.

(Baca juga: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Rampung, Intip Penampakannya)

Mampu menampung 200.000 jamaah, Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Luas bangunannya mencapai 26 persen dari total kawasan seluas 9,32 hekatre yang selebihnya merupakan halaman dan pertamanan.

Sebelumnya, Kementerian PUPR telah rampung menyelesaikan pengerjaan renovasi Masjid Istiqlal yang berlokasi di Jakarta Pusat selama 14 bulan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun langsung meresmikan renovasi tersebut pada Kamis 7 Januari 2021 lalu.

Diketahui, Masjid Istiqlal merupakan masjid yang memiliki sarat nilai sejarah. Sebab pembangunannya melibatkan para pendiri NKRI.

(Baca juga: Masjid Istiqlal Gunakan Panel Surya, Hemat Biaya Listrik dan Ramah Lingkungan)

Namun ada yang menarik saat pemilihan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Pasalnya, sempat menimbulkan perbedaan pendapat antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta saat itu.

Kala itu, Bung Hatta ingin agar Masjid Istiqlal didirikan di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdirinya Hotel Indonesia atau di Jalan MH Thamrin sekarang. Pertimbangan Bung Hatta kala itu, daerah tersebut berada di lingkungan muslim dan tersedia lahan yang cukup luas.

Bung Hatta juga kurang setuju jika masjid kebanggaan bangsa itu dibangun di kawasan Pasar Baru sebab lokasi tersebut banyak terdapat bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda.

Hatta beralasan akan mahal karena harus membongkar bekas benteng apabila Masjid Istiqlal didirikan di lokasi tersebut.

Namun Bung Karno tetap menghendaki agar pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di dekat sekitar Pasar Baru, tepatnya di Taman Wilhelmina dan dekat benteng kuno Belanda. Seperti yang dikhawatirkan Bung Hatta, anggaran untuk membangun masjid di tempat itu pasti amat besar.

Mengapa Bung Karno bersikukuh lokasi Masjid Istiqlal berada di dekat sekitar Pasar Baru, sebab ia ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa ini memiliki semangat persatuan dan toleransi beragama yang sangat kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Itulah alasan utama mengapa Presiden pertama RI tersebut bersikukuh Masjid Istiqlal harus dibangun di dekat Gereja Katedral yang menjadi pusat kegiatan umat Kristen di Indonesia. Beda pendapat tersebut diungkap Setiadi Sapandi dalam buku biografi Friedrich Silaban (2017).

Friedrich Silaban sendiri merupakan arsitek yang memenangkan sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal yang digelar oleh pemerintah RI kala itu.

Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyisihkan 27 peserta dan membawa hadiah emas 75 gram serta uang sebesar Rp25 ribu atas karyanya itu.

Terkait perdebatan Soekarno dan Hatta perihal pembangunan Masjid Istiqlal di bekas Taman Wilhelmina dan dekat benteng kuno Belanda itu, Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) mencatat, Soekarno menyampaikan penjelasan kepada KH Saifuddin Zuhri.

Dilansir dari NU Online, Bung Karno mengungkapkan bahwa sebelum kompeni Belanda membangun Taman Wilhelmina dan benteng, di situ berdiri sebuah masjid yang kemudian dirobohkan oleh Belanda untuk membangun dua situs tersebut.

KH Saifuddin Zuhri kala itu datang menemui Soekarno yang justru ingin menyelesaikan pembangunan Monumen Nasional (Monas) terlebih dahulu padahal pembangunan Masjid Istiqlal belum rampung. Namun, Soekarno menegaskan komitmen penyelesaian pembangunan Istiqlal.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya