Usulan yang jarang ini ditujukan untuk mendukung upaya damai PBB. Konperensi ini akan berlangsung pada 29 Maret sampai 7 April.
Houthi mengatakan mereka menyambut pembicaraan dengan koalisi yang dipimpin Saudi bila tempat pertemuan di negara netral dan prioritas mereka adalah mencabut pembatasan di pelabuhan Yaman dan bandar udara di Sanaa.
Namun Nadw al Dawsari, analis konflik Yaman dari Insitut Timur Tengah di Washington, ragu pembicaraan ini dapat berhasil.
"Saya tentu berharap akan ada solusi damai namun saya ragu bisa segera tercapai," katanya. "Tak ada yang siap damai. Pihak-pihak yang bertikai tidak mau berkompromi. Houthi tidak akan menyerah dengan tuntutan mereka untuk memerintah tanpa batas," katanya.
"Hadi sudah di luar negeri delapan tahun - ia tidak ingin mengakhiri konflik. Ia menghasil uang, seperti halnya Houthi juga.
"Jadi, bagaimana mengupayakan damai bila para pelaku mengambil keuntungan dari perang," katanya lagi.
Apa yang bisa dilakukan untuk membantu masalah kemanusiaan?
Rakyat Yaman sangat tergantung pada bantuan. Upaya badan-badan bantuan dan organisasi internasional terbatas anggaran yang disediakan pihak donor.
Dengan naiknya harga minyak dan bahan pangan dunia, sebagian besar khawatir mereka tidak akan menerima cukup dana untuk membiayari proyek bantuan ini.
PBB menerima lebih dari setengah dari USD3,4 miliar yang diperlukan pada 2020, sementara tahun lalu donor memberikan USD2,3 miliar. Badan Pangan Dunia, WHO juga terpaksa mengurangi bantuan pangan untuk Yaman karena organisasi itu kehabisan dana.
Pada 16 Maret lalu, PBB kembali berupaya menekan donor untuk memperhatikan Yaman.
Namun dalam seruan bantuan itu, badan dunia tersebut hanya dapat menggalang US1,3 miliar untuk membantu 17,3 juta jiwa, sepertiga dari yang diharapkan PBB.
Sekretaris Jendral PBB, Antonio Guterres memperingatkan bahwa perang di Yaman jangan sampai terlupakan karena krisis Ukraina.