Tanpa perhatian dari orangtua, anak-anak dengan fasilitas yang berlebih tersebut kemudian berperilaku menyimpang tanpa diketahui orangtuanya. Mereka sering membolos sekolah karena pamitnya sekolah namun tidak sampai sekolah justru keluyuran.
Anak-anak dari golongan mampu ini kemudian masuk atau bergabung dengan sebuah genk. Mereka sering nongkrong bareng, kebut-kebutan di jalan dan berkeliling tanpa tujuan yang jelas dan terkadang berakhir dengan tindakan kriminalitas.
"Kalau yang menengah ke bawah biasanya berasal dari singgle parent. Orangtuanya sibuk mencari nafkah sehingga perhatian ke anak sangat kurang,"tuturnya.
Sehingga perlu komunikasi yang terus menerus antara pihak sekolah dengan orangtua murid. Anak-anak juga harus diberi pengertian tentang konsekuensi hukum ketika mereka melakukan tindakan kriminal yang merugikan orang lain.
"Sosialisasi ini tidak hanya ke anak, tetapi orangtua juga perlu,"tandasnya.
(Widi Agustian)