Cerita dari Medan Perang Tertinggi Di Dunia, Mayat Tentara Bisa Hilang Puluhan Tahun

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 31 Agustus 2022 03:05 WIB
Gletser Siachen diperebutkan India dan Pakistan. (Foto: Getty Images)
Share :

"PERGI ke medan perang dengan kepastian akan mendapatkan kemenangan, dan kamu akan kembali ke rumah tanpa cedera."

Kalimat itu diucapkan oleh Uesugi Kenshin, salah satu panglima perang yang tinggal di Jepang pada abad ke-16. Ketika kalimat itu terucap dari mulutnya, dia tidak pernah membayangkan bahwa para tentara harus bertempur di tempat yang hampir menyentuh awan, dikelilingi salju setinggi 15 meter.

BACA JUGA: 3 Tentara India Tewas dalam Pertempuran di Perbatasan dengan China

Inilah yang dilakukan ribuan tentara India dan Pakistan selama hampir empat dekade di gletser Siachen, yang dianggap sebagai lokasi perang tertinggi di dunia.

Dilansir dari BBC Indonesia, dengan ketinggian 6.700 meter, gletser di utara Kashmir yang menjadi sengketa itu bisa mematikan. Bukan karena jumlah orang yang bersenjata lengkap yang dikerahkan di lereng dan lembahnya, tapi karena kondisi iklim dan orografisnya.

Pasukan India merebut kendali wilayah tersebut dari Pakistan pada 13 April 1984, dalam konflik bersenjata yang singkat. Pada pertempuran itu, ribuan personel berseragam dari kedua kubu tewas karena suhu yang sangat dingin, tersapu oleh longsoran salju atau terperosok ke dalam retakan tanah.

Tak hanya sampai di situ, banyak jasad yang jatuh pun belum ditemukan dan masih hilang.

Akhirnya 'pulang' juga

Minggu ini, sebuah unit tentara India yang ditempatkan di daerah itu menemukan dua jasad tentara. Salah satunya merupakan jenazah seorang tentara yang hilang sejak 38 tahun lalu. Jenazah lainnya belum teridentifikasi.

BACA JUGA: Batang Besi Berpaku Dijadikan Senjata Bentrokan Tentara India dan China di Perbatasan

Pihak berwenang mengatakan mereka menemukan jenazah tentara Chandrashekhar Harbola, yang pada 1984 terjebak longsoran salju bersama 19 rekannya. Kantor berita PTI melaporkan, kala itu mereka sedang berpatroli di gletser.

Pada saat itu, 15 mayat ditemukan, tetapi lima lagi tidak ditemukan.

Kerabat Harbola, yang tinggal di negara bagian Uttarakhand di Himalaya, yang berbatasan dengan China, mengatakan penemuan itu mungkin bisa mengakhiri rasa kehilangan yang tragis terhadap orang yang mereka cintai.

Pemakaman dengan penghormatan militer diadakan pada Rabu (24/8/2022), di kampung halaman Harbola. Pers setempat melaporkan, upacara itu dihadiri oleh pejabat tinggi dari wilayah tersebut.

Surat kabar The Times of India juga melaporkan bahwa Harbola seharusnya tidak mengikuti patroli yang merenggut nyawanya itu. Namun, pada menit-menit terakhir, salah satu komandan militer memasukkan namanya dalam pasukan karena ada prajurit yang sakit.

Bukan yang pertama

Kasus Harbola bukanlah kasus satu-satunya. Pada 2014, patroli lainnya menemukan jenazah Tukaram Patil, yang dinyatakan hilang di gunung 21 tahun sebelumnya.

Pada 2017, India dan Pakistan mencatat kematian 2.500 tentara di daerah itu, sejak konflik meletus 38 tahun lalu. Namun, secara tidak resmi beberapa pihak menyebut jumlah korbannya mencapai 3.000 sampai 5.000 orang.

Sekira 70 persen korban tewas karena iklim dan medan yang keras, sejak pemerintah New Delhi dan Islamabad menandatangani gencatan senjata pada tahun dan tidak ada pertempuran tentara dua negara itu yang dilaporkan.

"Musuh terbesar tentara adalah alam: cuaca dingin dan kekurangan oksigen, bukan pasukan yang ditempatkan di depan mereka," kata seorang dokter dan veteran tentara Pakistan kepada BBC dalam sebuah wawancara yang diterbitkan lima tahun lalu.

Di Siachen, suhu rata-rata adalah minus 20 derajat sepanjang tahun. Namun, di musim dingin, suhunya turun menjadi minus 50 derajat. Penurunan suhu itu menyebabkan kadar oksigen semakin menurun, yang pada akhirnya membuat sulit bernapas.

Insiden terburuk terjadi pada 7 April 2012. Pada hari itu, 140 anggota Infanteri Ringan Pakistan Utara terkubur longsoran salju. Es dan bebatuan menyelimuti markas besar di sektor Gayari, yang terletak 32 kilometer sebelah barat Siachen.

Setahun kemudian pasukan India mengalami nasib yang sama, ketika dinding es besar pecah di atas sebuah pos India. Pihak berwenang mengkonfirmasi sembilan tentara tewas.

Tidak ada tanda-tanda pengenduran

Dalam beberapa tahun terakhir, pembicaraan antara India dan Pakistan untuk mendemiliterisasi daerah itu dan menyelesaikan pembatasan perbatasan belum membuahkan hasil. Oleh sebab itu, ribuan tentara masih tetap ditempatkan di daerah tersebut.

Meskipun pada kenyataannya kegiatan rutin seperti pergi ke kamar mandi, menyikat gigi, atau makan pun bisa jadi mematikan bagi para tentara karena lingkungan yang tidak bersahabat.

Untuk hal ini kita juga harus menyertakan biayanya. Pada 2014, BBC melaporkan Angkatan Darat India menghabiskan sekitar USD1 juta dolar per hari untuk memasok pasukannya di Siachen.

Meskipun biayanya sangat besar, pihak berwenang di New Delhi tampaknya tidak mau menyerahkan wilayah strategis itu. Sebab, dari wilayah tersebut mereka bisa mengancam posisi negara tetangga yang berada di daerah yang lebih rendah dan di bagian Kashmir yang menjadi sengketa.

Pada April 1984 India melakukan Operasi Meghdoot, yang mengambil alih gletser dan mengakhiri upaya pendudukan yang dilakukan Pakistan pada tahun 70-an.

Sejak saat itu, angkatan bersenjata Pakistan telah mencoba untuk merebut kembali daerah itu secara paksa, beberapa kali dalam beberapa tahun. Namun, semua upaya itu gagal.

Salah satu operasi yang gagal dipimpin oleh seorang perwira muda bernama Pervez Musharraf, yang akhirnya menjadi presiden Pakistan pada 2001, setelah memimpin kudeta.

India dan Pakistan, keduanya bersenjata nuklir, telah mempertahankan dua perang untuk menguasai Kashmir, sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1947.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya