MEDAN - Kekayaan Indonesia sebagai sebuah bangsa adalah persatuan dan kebersamaan. Bukan sumber daya alam yang meski melimpah namun pasti akan habis pada waktunya. Demikian dikatakan Ketua Harian Nasional Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Tuan Guru Bajar (TGB) Muhammad Zainul Majdi saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Lintas Tokoh yang digelar di Hotel JW Marriott, Medan, Jumat, 9 Agustus 2022 malam.
Hadir dalam dialog itu, sejumlah tokoh pergerakan mahasiswa, tokoh pemuda dan para aktifis yang ada di Kota Medan.
TGB menyebutkan, Indonesia dibangun oleh para bapak bangsa (founding father) yang berasal dari beragam latar belakang. Baik suku, agama, kelompok maupun ideologi. Namun mereka dipersatukan dalam rasa senasib sepenanggungan, masa lalu kolektif sebagai suatu bangsa yang pernah dijajah.
"Ada Sutan Syarif di Kalimantan, Cut Nyak Dhien di Aceh. Kemudian Supomo di Jawa dan Agus Salim yang ada di Sumatera. Mereka ini mazhab pikirannya berbeda-beda. Namun kesamaan nasib dan masa lalu kolektif itu yang membuat mereka bersatu," kata TGB.
Kemudian persatuan Indonesia, kata TGB, dibangun atas keterikatan dengan perasaan kehendak yang sama untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Lalu keinginan untuk meretas jalan guna membangun masyarakat bersama.
Seperti Bung Karno dan Hatta, yang kata TGB tidak 100 persen sama. Bung Hatta dikenal memiliki keyakinan yang sangat kuat akan ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai soko gurunya. Sementara Bung Karno, lebih lebar berpikir kalau bicara soal ekonomi. Meski selalu bicara tentang marhaenisme dan sarinah, namun dia tidak menantang apa yang namanya ekonomi pasar terbuka, selagi masih ada kedaulatan di dalamnya.