BAGI pengguna setia kereta api commuter line atau KRL, Stasiun Bogor merupakan salah satu stasiun penting yang menjadi pemberhentian utama KRL. KRL yang berada di stasiun ini melayani rute Bogor-Jakarta Kota dan sebaliknya, dengan panjang jalur 54,823 km.
Di rute ini, dari Stasiun Bogor, KRL melewati setidaknya 22 stasiun pemberhentian sebelum sampai di Stasiun Jakarta Kota. Selain melayani rute Bogor-Jakarta Kota, stasiun ini juga mengoperasikan KRD (Kereta Rel Diesel) dengan rute Sukabumi-Bogor.
Menjadi stasiun penting bagi masyarakat Bogor dan Jabodetabek, Stasiun Bogor mempunyai arsitektur kuat dan menawan khas era kolonial. Melansir laman Heritage KAI, stasiun ini resmi menjadi bangunan cagar budaya pada 26 Maret 2007, sesuai dengan SK Menbudpar No PM:26/PW.007/MKP/2007. Dulunya, stasiun ini merupakan terminal pemberhentian paling ujung bagi jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (sekarang Bogor).
BACA JUGA:Viral! Seorang Pria Menjadi Korban Pelecehan Seksual di KRL, Ini Tampang Pelakunya
Bangunan stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda bernama SS (Staats Spoorwegen). Sejarah mencatat, jalur kereta api di stasiun ini mulai beroperasi sejak tahun 1872. Baru kemudian, bangunan stasiun tersedia di tahun 1881, demi menampung penumpang yang jumlahnya semakin banyak.
Meskipun usianya sudah melampaui 100 tahun, namun bangunan stasiun seluas 5.955 meter persegi ini masih kokoh berdiri. Di sisi lain, pembangunan ini juga dilakukan karyawan SS sebagai tanda terima kasih sekaligus selamat kepada salah satu pengembang kereta di Pulau Jawa, D. Marscalk, yang sudah memasuki masa pensiun.
Memiliki gaya khas era kolonial, Stasiun Bogor berarsitektur Indische Empire dengan massa bangunan simetris. Pihak SS juga sengaja memberikan penekanan di lobi utama dan bagian tengah stasiun dengan gaya neoklasik.
BACA JUGA:Asyik! Uji Coba KRL Yogya-Solo sampai Stasiun Palur Dimulai