“Beranjak dari pengalaman mengembangkan rudal presisi, sistem pengendalian tembakan Smart Shooter mencoba mencapai dua tujuan utama. Pertama, melindungi tentara dengan meningkatkan jarak antara mereka dan situasi. Kedua, mengurangi kerusakan tambahan, yang kami sebut dalam bahasa militer, menghindari orang yang tidak bersalah dalam situasi tersebut. Kami melakukannya dengan memastikan bahwa tentara menembak target secara tepat. Dampak kerusakannya lebih ringan. Kami menggunakan peluru kecil kaliber 556, bukan rudal," terangnya.
Omar Shakir, Direktur Urusan Israel dan Palestina di Human Rights Watch, mengatakan robot senjata itu mencontohkan "pergeseran Israel menuju dehumanisasi digital sistem senjata" yang mengesampingkan penilaian alamiah manusia dalam konflik yang kompleks.
Ia mengatakan robot senjata itu mengurangi risiko bagi tentara Israel tetapi meningkatkan risiko bagi warga Palestina. Dengan menggunakan teknologi seperti itu, Shakir mengatakan Israel sedang menciptakan "tong mesiu" untuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
(Susi Susanti)