"Pengakuan penuhnya, jika ada, tampaknya hanya manifestasi dari impunitas yang dinikmati penjahat dan kroni di bawah Presiden Putin dan Kremlin," terangnya pada briefing Departemen Luar Negeri.
Sementara itu, pejabat pemerintah Rusia, termasuk Putin, secara konsisten membantah ikut campur dalam politik AS.
Seperti diketahui, Kremlin telah dituduh ikut campur dalam pemilihan AS setidaknya sejak 2016, ketika peretas yang terkait dengan Rusia berhasil meretas email dari Komite Nasional Demokrat dan Ketua kampanye Hillary Clinton, John Podesta. Dokumen-dokumen itu dirilis selama masa kampanye untuk mempermalukan calon Demokrat.
(Susi Susanti)