Oligarki Rusia Yevgeny Prigozhin Akui Kremlin Akan Terus Ikut Campur Tangan dalam Pemilu AS

Susi Susanti, Jurnalis
Selasa 08 November 2022 11:21 WIB
Oligarki Rusia mengaku Kremlin ikut campur tangan di pemilu AS (Foto: TASS/Zuma Press)
Share :

RUSIA - Yevgeny Prigozhin, seorang oligarki terkait Kremlin yang disebut sebagai “koki Presiden Rusia Vladimir Putin,” tampaknya mengakui campur tangan Rusia dalam pemilihan umum (pemilu) Amerika Serikat (AS) di sebuah posting Telegram pada Senin (7/11/2022).

Prigozhin mengatakan bahwa Rusia telah ikut campur, sedang mencampuri dan akan terus ikut campur dalam proses demokrasi AS. Hal ini diungkapkannya saat menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan campur tangan Rusia dalam pemilihan kongres AS yang akan digelar pada Selasa (8/11/2022) waktu setempat.

“Saya akan menjawab Anda dengan sangat halus, dan dengan hati-hati dan saya minta maaf, saya akan membiarkan ambiguitas tertentu. Tuan-tuan, kami ikut campur, kami ikut campur dan kami akan ikut campur,” terangnya, dikutip CNN.

Baca juga:  Afsel Tak Akan Sita Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8 Triliun Milik Oligarki Rusia yang Merapat

“Dengan hati-hati, tepat, melalui pembedahan dan dengan cara kami sendiri, seperti yang kami tahu caranya. Selama operasi tepat kami, kami akan mengangkat kedua ginjal dan hati sekaligus,” lanjutnya.

Baca juga: Hindari Penyitaan, Kapal Pesiar Mewah Milik Oligarki Rusia Seharga Rp4 Triliun Diperintahkan Tinggalkan Fiji

Prigozhin tidak memiliki jabatan di pemerintahan Rusia, tetapi pernyataannya tampaknya merupakan pengakuan pertama dari kampanye tingkat tinggi Rusia untuk ikut campur dalam pemilihan AS dari seseorang yang dekat dengan Kremlin.

Prigozhin dilaporkan sebagai salah satu orang kepercayaan Putin. Saking dekatnya dengan Putin sehingga pers Rusia menjulukinya sebagai “koki” bagi Presiden Rusia setelah ia mulai melayani acara untuk Kremlin. Prigozhin kemudian memenangkan kontrak katering yang menguntungkan untuk sekolah dan angkatan bersenjata Rusia. Lalu pada 2010 ia menjadi orang dalam Kremlin dengan kerajaan komersial yang berkembang.

Tidak segera jelas seberapa serius Prigozhin dalam komentarnya, yang tampaknya dibuat agak sarkastis. Tetapi AS telah memberikan sanksi kepada Prigozhin karena mendanai Badan Riset Internet, sebuah peternakan troll Rusia yang terkenal karena dituduh ikut campur dalam beberapa pemilihan AS baru-baru ini. Prigozhin juga didakwa dengan konspirasi untuk menipu AS pada 2018 oleh penasihat khusus Robert Mueller sehubungan dengan dugaan campur tangan pemilu.

Prigozhin diketahui selama bertahun-tahun beroperasi di bayang-bayang dan di belakang layar. Dalam beberapa bulan terakhir, ia telah mengembangkan persona yang lebih ke publik, mungkin karena pergeseran keseimbangan kekuasaan di Rusia akibat kerugian yang semakin banyak di perang ukraina.

Pada September lalu, Prigozhin mengaku mendirikan Grup Wagner – sebuah kelompok tentara bayaran swasta yang dituduh melakukan kejahatan perang di Afrika, Suriah dan Ukraina – setelah bertahun-tahun menyangkal keterlibatan dengan kelompok tersebut.

Baru-baru ini, para pejabat AS dan Eropa menuduh bahwa Prigozhin mencoba menggunakan upaya perang untuk memperebutkan pengaruh yang meningkat di Kremlin. Prigozhin dilaporkan mengkonfrontasi Putin secara langsung tentang keyakinannya bahwa konflik tersebut salah urus. Namun Kremlin telah membantah bahwa para pejabat telah mengkritik manajemen perang.

Sementara itu, pejabat dan jaksa AS memperingatkan upaya peretasan serupa dan kampanye disinformasi oleh Rusia menjelang pemilihan presiden 2020 dan pemilu sela yang digelar pada Selasa (8/11/2022) waktu setempat.

Seorang peneliti rahasia mengatakan pada Kamis (3/11/2022) bahwa tersangka operasi Rusia telah menggunakan platform media sayap kanan untuk merendahkan kandidat Demokrat di Georgia, New York, Ohio dan Pennsylvania.

Para pejabat AS tampak tidak terkejut dengan pengakuan Prigozhin tentang campur tangan pemilu.

Sekretaris pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan “tidak mengherankan” bahwa Rusia berusaha untuk mempromosikan narasi “yang bertujuan merusak demokrasi.”

“Kami juga tahu bahwa bagian dari upaya Rusia termasuk mempromosikan narasi yang bertujuan merusak demokrasi dan menabur perpecahan dan perselisihan. Tidak mengherankan bahwa Rusia akan menyoroti upaya upaya mereka dan mengarang cerita tentang keberhasilan mereka pada malam pemilihan,” terangnya.

Kendati demikian, dia tidak mengetahui apakah ada upaya berkelanjutan oleh Rusia untuk mempengaruhi pemilihan paruh waktu dan mengarahkan pertanyaan itu kepada Direktur Intelijen Nasional.

Adapun juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan tidak akan memberi tahu apa pun yang belum mereka ketahui.

"Pengakuan penuhnya, jika ada, tampaknya hanya manifestasi dari impunitas yang dinikmati penjahat dan kroni di bawah Presiden Putin dan Kremlin," terangnya pada briefing Departemen Luar Negeri.

Sementara itu, pejabat pemerintah Rusia, termasuk Putin, secara konsisten membantah ikut campur dalam politik AS.

Seperti diketahui, Kremlin telah dituduh ikut campur dalam pemilihan AS setidaknya sejak 2016, ketika peretas yang terkait dengan Rusia berhasil meretas email dari Komite Nasional Demokrat dan Ketua kampanye Hillary Clinton, John Podesta. Dokumen-dokumen itu dirilis selama masa kampanye untuk mempermalukan calon Demokrat.

(Susi Susanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya