Yury Dmitriev, Sejarawan Rusia yang Bongkar Kejahatan Pimpinan Soviet Berakhir Dibui

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 08 Desember 2022 05:02 WIB
Sejarawan Rusia, Yury Dmitriev saat dikawal polisi saat di persidangan (foto: BBC Indonesia via Getty Images)
Share :

SEJARAWAN terkenal di Rusia, Yury Dmitriev telah menyusun daftar nama yang dicoba dihapuskan dalam sejarah Soviet, mereka yang dibunuh dalam masa-masa teror era Uni Soviet saat Josef Stalin berkuasa.

Dmitriev, berpuluh tahun mengungkap ribuan korban Stalin melalui pembunuhan bermotif politik serta kamp kerja paksa alias gulag, kini bakal menghabiskan waktu lebih lama di penjara.

Pada Senin (27/12), pengadilan di Kota Petrozavodsk memvonis Dmitriev dengan hukuman tambahan selama 15 tahun atas tuduhan kejahatan seksual terhadap anak.

 BACA JUGA:3 Tokoh yang Bunuh Ribuan Manusia, Ada Stalin Sang Pemimpin Uni Soviet

Namun, para pendukung dan kerabat Dmitriev meyakini bahwa hukuman tersebut adalah konspirasi politik demi membungkam dia agar tidak terus-menerus membongkar kejahatan Stalinisme.

"Yuri Dmitriev mendapat vonis terkini: 15 tahun," cuit Memorial, organisasi HAM pertama di Rusia yang giat mengecam kejahatan Stalinisme dan kini terancam ditutup oleh pemerintahan Vladimir Putin.

Dmitriev lahir pada 1956 di Petrozavodsk, Republik Karelia, dekat Finlandia. Dia kemudian diadopsi oleh keluarga seorang anggota militer Uni Soviet.

Tempat Dmitriev dilahirkan berada tak jauh dari Kepulauan Solovetsky, lokasi lahirnya gulag, sistem kerja paksa yang diterapkan di Uni Soviet dari 1930 sampai 1955.

 BACA JUGA:Kisah 3 Agen Ganda Uni Soviet yang Pernah Bekerja untuk CIA dan MI6

Di kawasan ini, sebanyak puluhan ribu tahanan tewas, baik karena ditembak maupun saat menggali Selat Laut Putih demi rencana pembangunan lima tahun yang digagas Stalin.

Hampir sebanyak 700.000 orang dieksekusi selama periode itu, menurut perkiraan resmi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya