MOCHAMAD Idjon Djanbi. Siapa yang tak kenal sosok pria ini di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Putra seorang petani bunga tulip yang pernah jadi sopir Ratu Belanda, Wilhelmina itu sangat tertutup dengan keluarga perihal pekerjaannya.
Hal itu diungkapkan oleh putranya, Heru Djanbi. Namun, Heru sendiri mengaku tak tahu banyak tentang kiprah ayahnya saat masih berdinas memimpin Kesatuan Komando Tentara Teritorium III/Siliwangi (Kesko TT III/Siliwangi), cikal bakal Kopassus.
“Kalau pengalamannya bapak (Idjon Djanbi) saya enggak banyak tahu ya, karena ketika bapak meninggal saja, saya baru umurnya 8 tahun. Tapi yang saya tahu, beliau banyak tertutupnya sama istri atau anak-anaknya tentang pengalaman militernya,” ungkap Heru kepada Okezone.
BACA JUGA:Jenderal Kopassus Pimpin Operasi Pembebasan, KKB Terdesak Minta Barter Senjata dengan Pilot Susi Air
Tapi sedikitnya saat masih kecil, Heru dan keluarganya masih ingat bahwa setelah Idjon Djanbi resign, tak lagi jadi Komandan Kopassus dan “dikaryakan” di perkebunan di Jawa Barat, kediamannya masih sering disatroni para perwira militer.
“Yang saya ingat, mungkin ketika tahun 1975-1976, ada teman-teman bapak dari tentara ke rumah. Itu kita (keluarga) ditaro di luar. Enggak boleh masuk, enggak boleh dengar. Kita kasih minuman saja dari luar,” tambahnya.
“Biasanya kalau minuman sudah jadi, kita cuma ketuk pintu, bapak nyamperin ke pintu, buka, terus kunci lagi. Sedemikian bapak jaga rahasia,” sambung ketua organisasi Anak Korps Baret Merah (AKBM) tersebut.
BACA JUGA:Di Tengah Kebimbangan, Sholat Istikharah Menuntun Subagyo Jadi Jenderal Kopassus