Baik sekolah di Gaza maupun kompleks di Qana dengan jelas ditandai sebagai properti PBB. Seperti Deir Yassin, tidak ada yang dimintai pertanggung jawaban. Pembantaian Qana dan kekejaman sekolah Gaza telah berlalu tanpa investigasi menyeluruh dan akuntabilitas.
Pada 2021, Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) di Den Haag telah membuka penyelidikan pertamanya atas kejahatan Israel di Tepi Barat dan Gaza. Pada 3 Maret 2021, Jaksa ICC Fatou Bensouda mengumumkan bahwa kantornya akan meluncurkan penyelidikan untuk mencakup semua dugaan kejahatan sejak 2014.
Israel menolak penyelidikan apa pun atas kejahatan perangnya di Palestina, dan Benjamin Netanyahu telah berulang kali menolak penyelidikan ICC. Seperti biasa, Israel mendapat dukungan penuh dari AS untuk menolak penyelidikan ICC, meskipun ada banyak bukti bahwa tentara Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang dalam operasinya yang berulang kali di Gaza dan Tepi Barat.