JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD berbicara soal politik praktis di Indonesia. Menurutnya, tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik.
"Sehingga di sini yang terjadi adalah adu kuat. Pun di dalam Pemilu yang akan kita songsong ini saudara, ya adu kuat. Tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Ya, ada kepentingan yang abadi," kata Mahfud dalam acara Seminar Nasional: Literasi Media dan Politik Jelang Pemilu 2024 di UIN Jakarta, Selasa (23/5/2023).
Mahfud pun mengumpamakan Partai Nasdem yang bisa saja awalnya berkawan, lalu tiba-tiba bermusuhan dengan partai lain karena ada perbedaan kepentingan.
"Bisa saja suatu saat Ketua Partai Nasdem berkawan dengan ketua partai lain, tetapi ketika suatu saat kepentingannya berbeda bermusuhan," katanya.
"Dan jangan ikuti permusuhan itu secara sungguh-sungguh karena bisa saja dalam waktu dekat bersatu lagi, yang di bawah terlanjut bermusuhan. Itu yang jadi masalah nantinya kalau itu diikuti," sambungnya.
Pernyataan tersebut berawal ketika Mahfud MD menjelaskan bahwa politik merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun dalam praktiknya, acap kali tidak selalu bagus.
"Secara praktis, politik itu logikanya bagus tapi praktiknya tidak selalu bagus. Karena di dalam politik itu dalilnya adalah kepentingan. Siapa, mendapat apa, dan dengan cara bagaimana. Itu politik. Yang penting dapat," katanya.
"Saya siapa, saya harus dapat itu, caranya yang penting dapat, itu praktisnya, bukan itu definisi, bukan. Itu praktis. Kalau kita lihat sekarang apa yang terjadi di tengah-tengah kita, ya itulah," tuturnya.
(Fakhrizal Fakhri )