“Semua pemangku kepentingan kita ajak bicara untuk menyusun daftar benda-benda yang perlu mendapatkan prioritas dan Java Man termasuk di dalamnya,” ungkap Hilmar setelah mendarat di Amsterdam untuk menandatangai serah terima pengembalian 472 artefak bersejarah milik Indonesia.
Ia mengatakan bahwa pihaknya akan mengunjungi Museum Naturalis dan bertemu dengan pihak museum untuk membicarakan beberapa alternatif terkait Manusia Jawa dan potensinya dipulangkan ke Indonesia.
Sebelumnya, pemerintah Belanda menyatakan akan mengembalikan ratusan artefak berharga yang dirampas dari Indonesia selama masa colonial atau yang dikenal dengan proses repatriasi.
Khusus untuk objek budaya Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 472 unit, termasuk di dalamnya permata dari "harta karun Lombok".
Sejak Belanda mengembalikan keris milik Pangeran Diponegoro dalam kunjungan Raja dan Ratu Belanda pada Maret 2020, pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda telah bekerja sama untuk memulai proses pengembalian ratusan artefak tersebut.
Dr. Cecep Eka Permana, seorang dosen arkeologi Universitas Indonesia yang mengajar tentang manusia purba, menyebut Manusia Jawa sebagai bukti pertama ditemukannya fosil manusia purba di Pulau Jawa.
Pada 1890-an, Eugene Dubois, seorang ahli paleoantropologi asal Belanda pergi ke Hindia Belanda pada zaman kolonial untuk melakukan ekskavasi di daerah perhutanan dan gua-gua.
Ia hendak mencari bukti peninggalan yang menunjukan “missing link” alias mata rantai penghubung dalam teori evolusi yang menghubungkan relasi antara manusia dan kera.
“Kalau menurut teori evolusi antara kera dan manusia, itu mestinya [manusia purba tinggal] di daerah hutan belantara kan, makanya dia pilih Sumatra waktu itu,” ungkap Cecep.