Mengapa Manusia Jawa Belum Bisa Pulang ke Indonesia dari Belanda?

Susi Susanti, Jurnalis
Jum'at 28 Juli 2023 09:49 WIB
Tengkorak Manusia Jawa (Foto: EPA-EFE)
Share :

Sementara, arkeolog UI Cecep Eka Permana menilai pihak Belanda tidak memiliki data ataupun bukti penemuan manusia purba yang cukup, sehingga mereka masih ingin menyimpan Manusia Jawa dalam koleksi mereka.

“Karena itu menjadi satu bagian yang menjadi kebanggaan mereka, karena mereka dulu memang intens sekali dalam meneliti bangsa-bangsa Belanda waktu awal abad ke-19. Karena saat itu kita mereka wilayah dia secara dulu karena mereka merasa memiliki juga,” kata Cecep.

Meski begitu, ia mengatakan pemerintah Indonesia perlu meningkatkan keseriusan mereka dalam merawat dan meneliti Manusia Jawa jikalau Belanda setuju untuk mengirimnya kembali ke Indonesia.

“Kita harus mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menunjukkan keseriusan kita kalau memang kita mau menerimanya dan tentu dengan ada temuan asli itu, penelitiannya tidak berhenti sampai di sini,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, mengatakan bahwa kemampuan Indonesia merawat dan mempreservasi benda bersejarah seharusnya tidak dipermasalahkan lagi.

Menurut dia, ada banyak museum-museum di Indonesia yang mampu menyimpan kerangka Manusia Jawa dengan baik.

“Tentunya, semuanya akan dikoordinasikan dengan museum nasional. Kita sangat siap menampung koleksi itu seandainya kembali.

“Kita beberapa kali, di Sangiran itu jauh lebih tua daripada Java Man dan itu tinggalannya utuh sampai sekarang,” ungkap Hilmar.

Senada, sejarawan Sri Margana juga menilai kualitas para peneliti sejarah dan arkeolog di Indonesia sudah cukup kompeten sehingga mereka mampu menghargai dan merawat objek dengan nilai sejarah itu.

“Kita juga punya lembaga-lembaga yang cukup kompeten, seperti museum nasional yang sudah cukup bisa diandalkan,” kata Sri.

Walau begitu, ia tidak bisa mempungkiri bahwa memang jika dibandingkan dengan museum atau lembaga luar negeri, Indonesia masih tertinggal jauh.

“Kalau kita bandingkan dengan lembaga-lembaga yang di luar negeri, memang museum nasional masih tertinggal jauh. Tapi soal kemampuan merawat itu tetap bisa kita,” ujarnya.

Ia sendiri cukup optimis bahwa Manusia Jawa – beserta benda-benda bersejarah historis lainnya - akan kembali ke Indonesia. Hanya saja, memang membutuhkan waktu lebih lama dan usaha lebih dari pihak Indonesia dalam melestarikan benda-benda bersejarah tersebut agar tetap terawat.

“Kalau saya yakin dalam proses nanti, akan bisa dikembalikan. Tapi itu memerlukan proses, kita tunggu saja,” tutur Sri.

Seperti diketahui, gerakan pengembalian barang bersejarah dimulai di Perancis, yang mengembalikan sejumlah barang dari era penjajahan ke negara-negara di Afrika tahun 2018.

Setahun sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan mengembalikan barang-barang yang diperoleh secara paksa ke negara-negara di Afrika dalam kurun waktu lima tahun.

Namun, berbeda dengan Prancis, Belanda tidak akan menunggu sampai ada klaim dari negara yang pernah dijarah benda budayanya untuk mengembalikannya.

Pada 2019, Museum Nasional Kebudayaan Dunia (yang mencakup Tropenmuseum, Amsterdam; Museum Volkenkunde, Leiden; Museum Afrika, Nijmegen) menerbitkan pedoman untuk merespons permintaan pengembalian barang-barang bersejarah oleh negara lain.

Di tahun yang sama, Belanda memulangkan 1.500 benda budaya Indonesia dari Museum Nusantara di Delft yang ditutup akibat keterbatasan dana.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya