Di sisi lain, Puan merinci dampak negatif lain yang akan terjadi apabila seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Seperti meningkatkan biaya hidup bagi masyarakat, khususnya kalangan berpendapatan menengah dan rendah.
"Terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah, ini dapat menjadi beban finansial yang besar dan menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan. Mereka mungkin harus mengurangi konsumsi bahan makanan lainnya demi mengakomodasi kenaikan harga beras," tuturnya.
BACA JUGA:
Puan juga menekankan pentingnya sinergitas antar Kementerian dan Lembaga untuk menciptakan terobosan untik mengatask persoalan ini. Baik dalam bantuan sosial hingga penguatan teknologi pertanian guna mengantisipasi dampak gagal panen yang berpengaruh pada kenaikan harga beras.
BACA JUGA:
"Bagaimana Negara dapat mendukung hadirnya teknologi agar petani tetap bisa mengairi sawah saat musim kekeringan. Langkah ini bisa menjadi solusi dan antisipasi gagal panen karena saat kemarau kesulitan petani adalah mengairi persawahannya,” sebut Puan.
Ketua DPP PDI-Perjuangan itu juga mengingatkan Pemerintah untuk memberikan insentif bagi petani yang mengalami gagal panen. Dengan demikian, kata Puan, petani yang mengalami gagal panen tetap bisa menanam lahan pertaniannya.
“Sektor industri pertanian jadi salah satu yang terdampak akibat kemarau panjang. Jadi diperlukan penanganan khusus agar tidak berdampak pada ketahanan pangan tanah air,” imbaunya.
Puan memastikan DPR akan mengawal program pengendalian harga beras di pasaran. Termasuk juga upaya yang dilakukan Pemerintah menghadapi kemarau panjang yang berimbas pada pertanian.
"Pemerintah juga harus memberikan informasi yang transparan kepada publik tentang tindakan yang telah diambil dalam menghadapi kenaikan harga beras. Ini mencakup rencana dan kebijakan yang diimplementasikan serta langkah-langkah yang diambil untuk melindungi kesejahteraan masyarakat," tutup Puan.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui sebanyak 86 kota mengalami kenaikan harga beras. Kenaikan ini juga menjadi salah satu penyumbang inflasi yang tercatat secara year on year pada Agustus 2023 sebesar 3,27%. Kenaikan itu terjadi karena adanya kenaikan harga gabah baik GKP (Gabah Kering Panen) maupun GKG (Gabah Kering Giling).
Pada Agustus 2023, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp11.754 ribu per kg berdasarkan data BPS. Artinya ada kenaikan sebesar 1,88 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp11.475 ribu per kg atau naik sebesar 3,19 persen.
(Fakhrizal Fakhri )