“Hal Ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk menunjukkan kerendah-hatian dan keinginan untuk berdialog dengan partai lain, tanpa melihat seberapa besar suara yang dimiliki,” imbuhnya.
Dosen muda Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) itu menambahkan, nuansa pertemuan Puan dan Kaesang juga sederhana khas anak muda. Bisa dilihat dari penampilan Puan dan Kaesang yang santai.
Saat bertemu Puan, Kaesang hanya memakai kemeja sederhana dengan tas ransel berhiasan boneka menggantung. Puan sendiri menggunakan pakaian serba hitam.
“Mungkin sudah jadi hal lumrah, bahwa anak-anak muda ‘nongkrong’ di kafe. Pertemuan kali ini mengindikasikan hal serupa. Artinya, hal ini merupakan langkah yang strategis dari sudut pandang semiotika politik,” kata Alvin.
Kafe merupakan tempat yang umumnya dikaitkan dengan gaya hidup kaum muda yang modern. Tidak kalah penting, menetapkan kafe sebagai titik temu dapat menciptakan citra yang lebih kontemporer dan relevan bagi partai politik yang ingin menarik pemilih muda.
Dalam pertemuan itu, Puan juga didampingi sejumlah politisi muda PDIP yang merupakan pengurus Banteng Muda Indonesia (BMI) dan Taruna Merah Putih (TMP). Di antaranya ada Charles Honoris hingga Diah Pikatan Orissa Putri Haprani atau Pinka.
(Arief Setyadi )