Di sisi lain, di balik citra Bogor sebagai kota pendidikan dan pariwisata, kesenjangan sosial dinilai masih terasa nyata. Perbedaan akses ekonomi, pendidikan, dan layanan publik menjadi sumber persoalan laten.
Partai Perindo, dengan basis ideologi ekonomi kerakyatan, memiliki peluang untuk mendorong kebijakan inklusif yang memperkuat UMKM, koperasi, serta ekonomi berbasis komunitas.
Sementara itu, mahasiswa IBI Kesatuan Bogor sebagai insan akademik memiliki kapasitas analitis untuk memetakan masalah kesenjangan sosial secara objektif. Hasil riset dan kajian mahasiswa dapat menjadi rujukan penting bagi pengambil kebijakan, sekaligus memastikan bahwa pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pemerataan.
Kolaborasi antara partai politik dan kalangan mahasiswa bisa menjadi kunci dalam menjawab persoalan sosial perkotaan. Ditegaskan Firdaus, Partai Perindo dapat memainkan peran dalam mendorong kebijakan, advokasi, dan penganggaran, sedangkan mahasiswa IBI Kesatuan Bogor berkontribusi melalui gagasan, inovasi, serta kerja-kerja sosial di akar rumput.
Dengan sinergi yang berkelanjutan, isu sampah kota, tawuran remaja, dan kesenjangan sosial di Kota Bogor tidak hanya dipandang sebagai masalah, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun kota yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan manusiawi.
(Erha Aprili Ramadhoni)