Menurut Edi, kekecewaan itu muncul karena pihak UGM tidak menyediakan data yang diharapkan oleh Roy Suryo Cs.
“Mereka berharap ada data yang sudah disiapkan di meja untuk diperiksa, tetapi ternyata tidak ada. Roy dan Tifa menyampaikan kekecewaan, bahkan sempat terjadi perdebatan yang cukup panas hingga hampir deadlock,” jelasnya.
Edi menuturkan, Roy Suryo juga mengaku terkejut dengan komposisi peserta pertemuan. Saat masuk ruangan, Roy dan timnya hanya bertiga, sementara di dalam ruangan sudah ada sekitar 16 orang.
“Bukan hanya pejabat rektorat atau dekanat, tetapi juga ada pihak yang disebut sebagai alumni UGM, termasuk orang-orang yang dikenal sering membela Jokowi,” ungkap Edi.
Roy Suryo, lanjut Edi, menilai pertemuan tersebut tidak berjalan secara adil karena dihadiri pihak-pihak yang dianggap tidak berkepentingan langsung. Atas dasar itu, Roy Suryo Cs sempat berniat melakukan walk out.
“Namun saat hendak walk out, pihak UGM kemudian mengeluarkan skripsi Jokowi,” ujar Edi.
Ia menyebut, saat skripsi tersebut ditunjukkan, Rismon Sianipar dan Roy Suryo sempat mengambil foto dokumen tersebut.
“Rismon memotret dan memperhatikan skripsi itu. Sebelumnya dia juga sudah melihat di perpustakaan dan diizinkan. Roy juga memotret. Bahkan disebutkan menggunakan kamera khusus agar hasilnya lebih jelas,” kata Edi.
Dari hasil pengamatan itu, menurut Edi, Roy Suryo Cs mengklaim menemukan sejumlah kejanggalan, mulai dari penggunaan font hingga lembar pengesahan.
“Disebutkan tidak ada nama dosen di lembar pengesahan, dan yang paling disorot adalah tidak adanya kelas Mujo atau Kasmudjo yang disebut-sebut sebagai dosen pembimbing atau dosen akademik Jokowi,” pungkasnya.
(Awaludin)