MINAB - Ribuan pelayat memadati jalan-jalan kota Minab, Iran selatan, untuk menghadiri pemakaman 168 siswi dan staf yang tewas, saat serangan terhadap sebuah sekolah dasar pada hari pertama kampanye militer AS-Israel.
Foto-foto pemakaman menunjukkan deretan kuburan kecil dan dangkal – tempat peristirahatan terakhir anak-anak yang sebagian besar berusia antara tujuh hingga 12 tahun. Para pelayat mengenakan pakaian hitam dan membawa foto almarhum, sambil menabuh dada mereka sebagai tanda kesedihan ketika prosesi melewati alun-alun utama kota.
Tragedi di Balik Reruntuhan
Menurut pemerintah Iran, serangan menghancurkan sekolah putri Shajareh Tayyebeh pada pagi 28 Februari, menewaskan 168 siswi, 14 guru dan staf, serta empat orang tua yang berada di sekolah saat itu. Jet tempur AS dan Israel dilaporkan melakukan lima serangan udara ke sekolah, sementara sebuah klinik di dekatnya juga terkena dampak beberapa jam kemudian.
Reaksi Dunia Internasional
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengunggah foto kuburan di X, menulis:
"Ini adalah kuburan lebih dari 160 gadis tak berdosa. Tubuh mereka hancur berkeping-keping. Dari Gaza hingga Minab, orang-orang tak berdosa dibunuh dengan kejam."
Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyerukan penyelidikan, menyebut gambar-gambar ini sebagai bukti
“kehancuran, keputusasaan, dan kekejaman konflik.” UNESCO menyatakan keprihatinan, menekankan serangan terhadap sekolah merusak hak atas pendidikan.
Rusia, China, Belarus, dan Turki juga mengecam keras serangan tersebut. Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian, menulis bahwa gadis-gadis itu “pergi ke sekolah dengan harapan dan impian, namun hidup mereka diputus secara brutal.”
Sejumlah pejabat AS, termasuk Marjorie Taylor Greene dan Gubernur California Gavin Newsom, menuntut penjelasan atas kematian anak-anak tersebut. Uni Eropa menyerukan semua pihak menahan diri dan melindungi warga sipil.
AS dan Israel: Menghindari Tanggung Jawab
AS dan Israel mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan. Juru bicara Pentagon mengaku “menyadari laporan korban sipil” dan sedang menyelidiki, sementara juru bicara militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya serangan dan menegaskan operasi mereka “sangat akurat.”
(Awaludin)