Dugaan pembiaran terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (2/3/2026).
Kuasa hukum ibu kandung Nizam, Mira Widyawati, membeberkan isi pesan singkat dari ayah korban, AS, yang dinilai janggal sebelum Nizam meninggal. Pada 15 Februari 2026, tiga hari sebelum Nizam meninggal, AS menghubungi ibu kandung korban, Lisnawati, melalui pesan singkat, memberitahukan bahwa Nizam sedang sakit.
Namun, jawaban AS terkait pengobatan membuat keluarga heran.
"Chat-nya isinya 'anaknya sakit' dalam bahasa Sunda. Saat ditanya apakah sudah dibawa ke dokter, jawabannya 'Belum'. Kenapa? 'Gak ada waktu'," ujar Mira menirukan percakapan tersebut.
Pada hari yang sama, AS mengirim pesan lain seolah memprediksi kematian Nizam:
"Minta maaf ya kalau misalnya anak ini tidak panjang umur. Mungkin akan dimakamkan di makam keluarga, dekat makam bapaknya atau kakeknya."
Padahal, saat pesan itu dikirim, Nizam masih berada di rumah dalam kondisi kritis. Mira menyebut pihaknya memiliki bukti video yang menunjukkan kondisi Nizam yang parah namun tetap dibiarkan di rumah.
"Kami menganalisis ini sebagai pembiaran atau penelantaran, sengaja tidak dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.
Nizam dikabarkan meninggal pada 18 Februari dengan alasan sakit paru-paru. Tragisnya, Lisnawati yang datang dari Cianjur ke Sukabumi tidak sempat melihat wajah putranya karena jenazah sudah dikafani.
Mira juga menyoroti kejanggalan lain, yakni ketidakhadiran ayah Nizam di pemakaman. Selain itu, video viral detik-detik terakhir Nizam saat dirawat menunjukkan korban sempat menunjuk ke arah ibu tirinya sambil mengaku diberi minum air mendidih.
(Awaludin)