Perebutan Selat Hormuz Menjadi Palagan Menentukan

Opini, Jurnalis
Selasa 17 Maret 2026 04:30 WIB
Dosen Jurusan Ilmu Politik UIII Ridwan al Makassary (foto: dok pribadi)
Share :

Bagaimana AS dan Israel menyahutinya? Mereka justru mengirim kapal induk terbesar di dunia, yaitu USS Gerald R Ford, ke kawasan dan mengancam akan menghantam Iran “20 kali lebih keras” jika aliran minyak terganggu. Ini merupakan logika lingkaran setan, yaitu Iran takut diserang, lalu memperkuat pertahanan di selat Hormuz. AS-Israel melihat itu sebagai ancaman, lalu mereka akan menyerang. Selanjutnya, Iran menutup selat sebagai balasan. Lantas, AS-Israel berusaha merebutnya dengan berbagai cara, termasuk cara kekerasan. Jika pasukan marinir AS dan Israel benar-benar mendarat di Pulau Kharg, maka terminal ekspor minyak utama Iran, maka skenario kiamat energi pun tiba. 

Secara hukum internasional, tindakan merebut selat internasional yang berada dalam wilayah kedaulatan Iran (meski statusnya sebagai jalur internasional) adalah tindakan agresi yang dilarang Piagam PBB. Namun, sejarah mencatat bahwa hukum internasional acap dilanggar oleh negara adidaya dengan kepentingan hegemonik, seperti AS. Sama halnya, invasi ke Irak pada 2003 dilakukan dengan dalih senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan, dan juga menculik presiden Venuzuela belum lama ini. Kini, kita mungkin akan melihat invasi baru dengan dalih “membuka blokade” yang sebenarnya tidak pernah ada.

Kita patut bertanya, siapa yang diuntungkan jika perebutan tersebut terjadi? Israel jelas ingin menghancurkan kemampuan rudal dan nuklir Iran. AS ingin menunjukkan bahwa mereka masih “polisi dunia” di Timur Tengah. Namun, yang menjadi tumbal adalah negara-negara berkembang yang tidak punya cadangan energi cukup, seperti Indonesia, Pakistan, atau Bangladesh.

Kita juga harus mewaspadai skenario jangka panjang. Jika AS-Israel berhasil merebut dan menguasai Selat Hormuz, maka harga energi tidak lagi ditentukan oleh OPEC atau mekanisme pasar, tetapi oleh “izin politik” dari Pentagon dan ruang komando tentara pendudukan. Ini bukan lagi perang, ini adalah operasi penyanderaan atas perut bumi dan perut jutaan rakyat Asia. Singkatnya, pengalaman Selat Hormuz memberi pelajaran penting tentang bagaimana jalur laut strategis dapat berubah menjadi ruang kontestasi geopolitik.

Di tengah panasnya situasi, kita berharap akal sehat masih dikedepankan. Diplomasi semoga masih diupayakan dunia global dengan lebih keras dari deru mesin jet F-35. Karena jika marinir Israel-AS benar-benar mendarat di Hormuz, percayalah, dunia tidak akan lagi sama seperti sebelumnya. Dan kita semua akan membayar harga mahal dari ambisi Washington DC dan Tel Aviv yang mengutamakan kekerasan dan kerakusan. Selat Hormuz, sekali lagi, mungkin hanya garis sempit di peta dunia. Namun di sanalah, kepentingan energi, kekuasaan, dan geopolitik global sedang dipertarungkan oleh pihak-pihak yang bertikai.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya