Di Balik Kemudi saat Lebaran, Ada Rindu yang Tertahan Bersua Keluarga

Achmad Al Fiqri, Jurnalis
Jum'at 20 Maret 2026 06:14 WIB
Di Balik Kemudi saat Lebaran, Ada Rindu yang Tertahan Bersua Keluarga (Achmad Al Fiqri)
Share :

JAKARTA - Bagi jutaan orang, momen takbir Idul Fitri disambut sukacita berkumpul bersama keluarga. Namun bagi Edi (52), seorang sopir bus PO ANS, gema takbir adalah pengingat akan rindu yang harus ia tahan di balik kemudi.

Saat pemudik lain bersiap menyantap ketupat, Edi justru masih berjuang menaklukkan padatnya jalanan, mengantarkan para perantau ke kampung halaman mereka di Ranah Minang.

"Ya kalau masalah perasaan itu harus dibagi. Kalau kita cari nafkah itu kan yang kita cari untuk keluarga. Wajar aja kita berjuang demi keluarga walaupun kita terpisah. Pokoknya kita harus tabah menjalaninya," tutur Edi saat ditemui di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Kamis (19/3/2026).

Pria asli Minang ini bukanlah orang baru di dunia setir. Meski baru satu tahun bergabung dengan PO ANS, pengalamannya sebagai sopir sudah sangat panjang. Selama 18 tahun, ia hampir selalu melewati malam takbiran dan hari Lebaran di atas aspal, jauh dari sanak saudara.

"(Rasa sedih) itu tetap ada. Kalau kita sebagai umat muslim itu tetap ada. Takbiran itu memanggil hati kita untuk berkumpul sama keluarga," ucapnya.

Bagi Edi dan rekan-rekan seprofesinya, tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari raya adalah sebuah risiko pekerjaan yang harus diterima dengan lapang dada. 

"Kalau driver bus itu jarang sekali bisa berkumpul sama keluarga pas Lebaran, sudah risiko," tuturnya.

Meski begitu, di tengah pengorbanannya, ada perasaan unik yang membekas di hatinya setiap musim mudik. Ada kebahagiaan tersendiri saat ia berhasil mengantar penumpang yang merupakan "warga satu suku" dengannya. Melihat wajah-wajah bahagia mereka yang akan segera bertemu keluarga menjadi obat pelipur lara.

"Perasaan ini bercampur aduk. Bahagia bisa berjumpa dengan warga satu suku. Tapi di sisi lain sedih karena tidak bisa berjumpa dengan keluarga sendiri," tuturnya.

 

Bahkan, Edi harus tetap melayani para penumpang hingga kembali ke tempat rantau saat arus balik Lebaran. Hal itu membuat Edi lama tak jumpa keluarga.

"Iya, sampai arus balik masih di jalan. Kadang bisa istirahat kalau muatan tidak terdesak, tapi kalau harus kejar setoran, ya lanjut lagi," tuturnya.

Namun, semua lelah dan rindu itu seakan terbayar lunas oleh satu hal sederhana: ucapan terima kasih dari penumpang. Ketika para perantau tiba di tujuan dengan selamat dan mengucapkan terima kasih, ada kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya.

"Oh, ada (ucapan terima kasih dari penumpang). Itu menjadi sebuah kebanggaan bagi kami," katanya. 
 

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya