JAKARTA- Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur (Jatim), KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam menegaskan, sumber-sumber kekayaan strategis negara yang memenuhi hajat rakyat banyak harus kembali dikuasai, dikelola dan dikendalikan secara mandiri oleh negara.
"Ekonomi berbasis gotong royong dan kreativitas inovatif diarus utamakan dan diarahkan agar terjadi pemerataan," ujar Gus Salam, Minggu (29/3/2026).
Cucu pendiri NU ini menambahkan, komitmen Nahdlatul Ulama (NU) untuk kedaulatan dan kemandirian Indonesia, telah diukir dalam sejarah.
Komitmen itu tidak akan berkurang sedikitpun karena menyatu dalam keyakinan beragama, sistem berpikir dan orientasi NU dalam bernegara-bangsa dan bermasyarakat.
"NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
Gus Salam yang juga Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) ini melanjutkan, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, namun karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU, melemah,” ucap Gus Salam.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relatifitas, serta berpikir sumbu pendek.
Dia menambahkan, NU tidak boleh melemah karena virus, bakteri dan toxic dari internalnya. Sebaliknya, NU harus sehat, kuat dan mandiri dari dalam untuk menjaga kedaulatannya.
NU harus kembali menjadi pelopor kemandirian, kesehatan berjam’iyyah-bermasyarakat, dan kedaulatan bernegara-bangsa demi keluhuran Islam Aswaja dan kebesaran Nusantara.
"Muktamar ke35 NU, Agustus-September tahun 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, April-Mei tahun 2026 menjadi momentum bagi Ulama-Kyai Pesantren, Struktural dan Kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," kata dia.
Kata Gus Salam, Jam’iyyah NU harus mengambil peluang untuk bangkit menjadi sehat-kuat-mandiri supaya tetap bisa menjaga dan menopang NKRI.
Demikian pula, kedaulatan dan kemandirian NKRI harus dikembalikan dengan penegasan landasan dan haluan dasar bernegara, supaya bisa turut serta menciptakan perdamaian dunia demi keadilan dan kemanusiaan.
"Sepekan Idul Fitri, hari kemenangan yang indah penuh rahmat. Tidak semua saudara muslim bisa merasakan sebagaimana kita di Indonesia. Idul Fitri, saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi, apa yang terjadi didalam diri dan sekitar kita,”ujarnya.
”Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU,"lanjutnya.
Dalam tiga dimensi kehidupan itu, kini tersedia gambaran (i’tibar) untuk dipelajari oleh mereka yang berwawasan dan kritis melihatnya.
“Pesan ‘fa’tabiruu ya ulil albab’, supaya kita mendapati kembali iktiar menuju perabadan manusia yang mulia. Supaya ‘itqun min an-nar; terbebas dari dorongan menuju kerusakan dan keburukan membangun peradaban,” ujarnya.
Saat ini kata dia, Dunia semakin tegang, dampak dari perang ilegal yang dipicu zionis Israel-AS terhadap kedaulatan Iran.
“Hal itu turut meningkatkan ketegangan hubungan antar negara, bangsa, kawasan, peradaban dan komunitas,”pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )