Keempat, adanya “uji coba” industri militer. Iran memanfaatkan momentum ini untuk mempresentasikan kemampuan militernya kepada publik internasional. Banyak pihak terkesima dengan kemampuan Iran dalam mengimbangi bahkan memukul mundur kekuatan besar, termasuk klaim penembakan jatuh F-35.
Perang Amerika–Iran kali ini menjadi panggung besar perang asimetris: drone melawan jet tempur, drone melawan sistem pertahanan seperti Iron Dome, hingga kapal induk melawan armada kecil. Sebuah bentuk perang yang kerap disebut para pengamat sebagai asymmetric warfare.
Dengan sejumlah alasan ini, Iran tetap “on fire” dan menolak tawaran ceasefire dari Amerika.
Reset Geopolitik
Dukungan terhadap Iran sebelumnya lebih banyak datang dari proksinya: Houthi, Hizbullah, dan Hamas. Namun, ketika perang memasuki bulan kedua, tiga negara di kawasan, Irak, Qatar, dan Oman, disebut mulai menyatakan dukungan.
Di Eropa, dukungan paling tampak datang dari Spanyol, disusul kawasan Skandinavia. Dukungan juga muncul dari Amerika Latin serta Asia Tenggara, khususnya Malaysia. Selain itu, China, Rusia, dan Korea Utara telah lebih dulu menjalin kolaborasi dengan Iran.
Berbagai dukungan ini bisa menjadi “modal dasar” bagi Iran untuk memperluas pengaruhnya di tingkat global. Dengan dukungan tersebut, geopolitik dunia tampak bergerak menuju penataan ulang (reset).
Iran tampak tidak hanya ingin lepas dari embargo dan menuntut pencabutan sanksi, tetapi juga berupaya “menata ulang” tatanan geopolitik, ekonomi, dan militer global.
Secara geopolitik, performa Iran dalam konflik ini dinilai mengesankan. Hal ini mendorong sejumlah negara untuk berani mengambil posisi berbeda, bahkan keluar dari pengaruh Amerika.