Iran on Fire, Reset Geopolitik dan Gagalnya Perundingan Amerika–Iran

Opini, Jurnalis
Minggu 12 April 2026 21:19 WIB
Direktur Eksekutif CSIIS Jakarta, M. Sholeh Basyari (foto: dok pribadi)
Share :

Penulis: M. Sholeh Basyari - Dosen INSURI Ponorogo dan Direktur Eksekutif Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS) Jakarta.


SEPERTI dugaan banyak orang, perundingan Amerika–Iran gagal. Amerika terus memaksa Iran menghentikan program nuklir sekaligus mengintimidasi Iran di sela-sela perundingan yang tengah berlangsung.

Tak beda dengan Iran, negeri para Mullah ini langsung “ngegas” dengan tuntutan tinggi: meminta Amerika mencairkan aset beku Iran di sejumlah perbankan di berbagai negara. Iran juga mendesak Amerika untuk mengendalikan Israel.

Amerika menawarkan ceasefire, Iran on fire

Dari awal Iran tidak ingin berunding, tidak ingin gencatan senjata (ceasefire/al-hudnah). Sementara Presiden Trump terus mempublikasikan kesuksesan operasi Epic Fury, sembari menawarkan ceasefire dan perundingan berikutnya dengan berbagai rayuan kepada Iran.

Kalaupun kemudian perundingan dan ceasefire terlaksana, sejatinya, seperti disaksikan masyarakat dunia, hanyalah basa-basi, atau setidaknya “ambil napas” sesaat.

Sejumlah fakta lapangan menjadi alasan (reasoning) mengapa Iran “on fire” serta menolak ceasefire:

Pertama, kepercayaan diri Iran tengah membumbung tinggi. Iran sangat sadar bahwa masyarakat internasional mengikuti, memantau, dan bahkan dalam derajat tertentu menjagokan mereka.

Masyarakat internasional menjelma menjadi “suporter” Iran. Selain Amerika dan Israel, nyaris hanya kelompok Wahabi serta sebagian kecil oknum yang tidak mendukung Iran.

Kedua, Iran tengah menguji daya tahan (endurance), baik militer maupun warganya, dalam menghadapi situasi berat. Hal ini strategis, mengingat sebelum perang dimulai pada 28 Februari lalu, banyak yang beranggapan Iran lemah dan nyaris tidak membalas, seperti dalam perang 12 hari pada 2025.

Ketiga, secara kronologis tampak bahwa pada awalnya Iran “iseng” memainkan isu Selat Hormuz. Disebut “iseng” karena pada tahap awal, Iran belum menemukan pola. Namun belakangan, secara empirik pola tersebut terbentuk: mulai dari pelarangan kapal tanker Amerika, Israel, dan sekutunya melintas; kemudian memberi akses gratis bagi negara sahabat; hingga pengesahan oleh Parlemen Iran bahwa setiap kapal yang melintas wajib membayar bea transit sebesar 2 juta dolar.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya