“Kita sering memiliki visi digital, tetapi masih terjebak dalam struktur analog. Karena itu, ia mendorong reformasi menyeluruh, mulai dari penyederhanaan struktur organisasi, penguatan budaya inovasi, hingga pembaruan regulasi yang selaras dengan dinamika teknologi global,’’bebernya.
Dalam orasi ilmiahnya, Aris menekankan pentingnya kerja sama internasional sebagai akselerator modernisasi pertahanan. Di tengah kompleksitas ancaman global, tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri.
‘’Kolaborasi lintas negara membuka akses terhadap teknologi canggih, mempercepat inovasi, serta memperkuat interoperabilitas sistem pertahanan. Di era interdependensi, kedaulatan bukan berarti isolasi, tetapi kemampuan untuk berjejaring secara strategis,”ungkapnya.