Aris menegaskan bahwa modernisasi pertahanan bukan sekadar integrasi teknologi, tetapi rekonstruksi menyeluruh cara negara memahami ancaman dan merumuskan kebijakan.
Oleh karena itu dia menekankan bahwa kekuatan pertahanan modern tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kemampuan negara mengelola inovasi secara etis, adaptif, dan visioner.
“Teknologi memberi kekuatan. Namun hanya kebijakan yang bijaksana yang mampu mengarahkannya,”pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )