JAKARTA - Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto, membenarkan bahwa prajurit TNI menembak mati tokoh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau TPNPB-OPM, Jeki Murib.
Jeki Murib diduga kuat sebagai aktor di balik sejumlah aksi kekerasan di Papua Tengah, termasuk pembunuhan karyawan PT Freeport Indonesia, Simpson Mulia, di area Grasberg, Distrik Tembagapura, Mimika.
“Benar, Jeki Murib terpaksa kita lumpuhkan setelah yang bersangkutan bersama kelompoknya melakukan serangan mendadak terhadap prajurit TNI,” ujar Lucky, Selasa (28/4/2026).
Peristiwa itu terjadi saat pasukan TNI melaksanakan patroli rutin di sekitar Desa Pinapa, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak. Kelompok bersenjata tersebut disebut melakukan serangan secara tiba-tiba menggunakan senjata api.
Akibat serangan itu, satu prajurit TNI mengalami luka. Dalam situasi tersebut, prajurit TNI mengambil tindakan tegas dan terukur sesuai aturan pelibatan (Rules of Engagement/RoE), dengan tetap mengedepankan hukum dan prinsip hak asasi manusia (HAM).
“Tindakan prajurit merupakan bentuk profesionalisme dalam menjaga keselamatan masyarakat dan personel di lapangan,” tegasnya.
Lucky menambahkan, langkah tersebut dilandasi prinsip salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi.
Ia juga menyebut, prajurit di lapangan menghadapi tantangan karena kelompok bersenjata kerap memanfaatkan warga sipil sebagai tameng.
“Dengan kehati-hatian dan tanggung jawab besar, prajurit tetap mampu bertindak tepat sasaran. Jeki Murib dilumpuhkan dengan dua tembakan dalam situasi yang sangat terdesak,” ungkap Lucky.
Berdasarkan pemantauan di lokasi, Jeki Murib yang tertembak sempat dibawa oleh anggota kelompoknya menjauh dari titik kejadian. Sementara anggota lainnya melarikan diri ke dalam hutan.
Informasi sementara menyebutkan jasad Jeki Murib kemudian dibakar oleh kelompoknya. Kabar kematiannya juga beredar melalui jaringan simpatisan di media sosial.
Selain kasus di area Freeport, Jeki Murib diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan lain, seperti pembunuhan pekerja pembangunan puskesmas di Desa Eromaga, penembakan di Bandara Amingaru, pembakaran gereja di Desa Pinapa, pembakaran sekolah di Desa Pinggil, serta perusakan fasilitas pemerintah di Kabupaten Puncak pada 2025.
“Ini menjadi bukti komitmen TNI dalam menjaga kedaulatan negara dan melindungi masyarakat Papua dari ancaman kekerasan bersenjata,” ujar Lucky.
Ia berharap, langkah tersebut dapat menghadirkan rasa aman dan mendukung keberlanjutan pembangunan di Papua.
(Awaludin)