JAKARTA – Presiden ke-2 RI Soeharto dikenal sebagai sosok tegas saat memimpin Indonesia 32 tahun. Dia juga dijuluki The Smiling General atau jenderal yang tersenyum.
Penulis Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen, Bambang Wiwoho menilai, Soeharto adalah sosok pemimpin yang mengambil keputusan berbasis kalkulasi politik dan tradisi kebatinan Jawa.
"Orang yang menjalani laku spiritual pasti akan membentuk cita dirinya. Memang setiap orang akan berbeda dalam memetik perjalanan spiritualnya,’’ kata Wiwoho saat jumpa pers Peluncuran Buku Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen di Jakarta, Senin (8/6/2026).
‘’Dan Pak Harto menggunakan feeling itu dalam merumuskan strategi politik dalam masa pemerintahannya. Ia menyerap energi alam itu, atau yang disebut Joyo Prabowo,"lanjutnya.
Sementara yang kedua, lanjutnya, Soeharto melakukan Cipta Roso Karso, yaitu dalam Islam dikenal dengan istilah Napsu, Kalbu, dan Akal Pikiran.
"Hal yang sama sebenarnya juga dilakukan oleh beberapa pimpinan terkenal dunia, hanya saja berbeda sebutannya. Intinya adalah, bagaimana dalam membuat kebijakan bukan hanya memperhitungkan angka tapi juga harus selaras dengan alam itu sendiri dan rasa manusiawi manusia," ungkapnya.
Wiwoho mengaku melakukan aktivitas napak tilas ke sejumlah lokasi yang kerap dikunjungi Soeharto. Ia menjelaskan isi buku ini akan berbeda dengan pandangan umum masyarakat tentang mistis yang selalu dikaitkan dengan sosok gaib.
Dia menjelaskan isi buku ini berupaya mengungkap bagaimana laku spiritual membentuk sikap hidup, cara berpikir, hingga perilaku Soeharto dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk bagaimana cara Soeharto memilih para pembantunya untuk menjalankan roda pemerintahan.
"Kalau mistis itu gambarannya selama ini kita kenal ada makhluk gaib, segala macam gitu ya. Tapi kalau di gambaran ini, nanti akan ketemu hal-hal lain," ucap dia.
"Kemudian, buku sebetulnya tulisan laku spiritual Pak Harto yang mempengaruhi sikap hidup, cara pandang Pak Harto, perilaku Pak Harto dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di antaranya yang mempengaruhi bagaimana Pak Harto merekrut para pembantunya, itu saya gambarkan singkat," sambungnya.
Lebih lanjut dia menambahkan, bahwa kiprah Soeharto telah ditulis melalui buku berjudul 'Tonggak-Tonggak Orde Baru' yang total mencapai hampir 1.500 halaman. Namun terdapat masukan dari sejumlah pihak agar khusus masalah laku spiritual diterbitkan terpisah.
"Jadi buku (Laku Spiritual Pak Harto) yang lebih simpel, lebih kecil, lebih praktis, lebih enak dibaca, karena yang trilogi itu tebal-tebal. Tapi kalau hanya laku spiritual saja kok terlalu tipis, kemudian dari diskusi dengan Pak Tra, ditambahlah analisis SWOT ala Jawa," pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )