Bursa Calon Ketua Umum PBNU Memanas, Eks Ketum PMII Gus Hery Ikut Maju

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Minggu 21 Juni 2026 08:08 WIB
Bursa Calon Ketua Umum PBNU Memanas, Eks Ketum PMII Gus Hery Ikut Maju
Share :

JAKARTA  – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Hery Haryanto Azumi alias Gus Hery akan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sejumlah tokoh penting juga dikabarkan akan maju.

Gus Hery pun bersilaturahmi ke Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH. Fahim Royani alias Gus Fahim. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian silaturahim kebangsaan dan ke-NU-an menjelang pelaksanaan Kombes dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

"Saya senang sekali mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU yang akan datang,”ujar Gus Fahim dikutip, Minggu (21/6/2026).  

“Mulai sekarang, perbaiki niat. Niatkan semata-mata untuk berkhidmat kepada NU dengan ikhlas. Kalau niatnya lurus dan baik, Insya Allah ketika ada tantangan, hambatan, atau ujian di tengah jalan, Allah akan melapangkan jalan keluarnya. Sebab perjuangan yang dilandasi keikhlasan selalu mendapatkan pertolongan-Nya,"lanjutnya.
 

Pertemuan tersebut juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi NU menjelang Muktamar ke-35, termasuk harapan besar warga nahdliyin terhadap lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi memasuki abad kedua dengan lebih progresif dan berdaya saing.

Gus Fahim mengungkapkan bahwa selama ini dirinya sering merenungkan sosok yang tepat untuk memimpin PBNU pada periode mendatang. Menurutnya, NU membutuhkan figur yang tidak hanya berakar kuat dari tradisi pesantren, tetapi juga memiliki kemampuan memahami persoalan kebangsaan dan global secara komprehensif.

“NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat. Yang paling penting, semua itu diniatkan untuk kemajuan NU dan kemaslahatan nahdliyin,"ujar Gus Fahim.

Gus Fahim menggambarkan NU sebagai sebuah keyakinan yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan oleh siapa pun yang dipercaya memimpin organisasi tersebut.

"NU itu bagi warga nahdliyin bukan sekadar organisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari aqidah sosial dan tradisi perjuangan. Karena itu, siapa pun yang mengemban amanah memimpin NU harus memegangnya dengan keyakinan yang kuat, kesabaran yang panjang, ketulusan hati, serta kesiapan berkorban demi umat. Memimpin NU bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian,"tegasnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya