“Dalam kondisi ini kita terbuka kepada semua mitra, semua negara yang mau masuk ke Indonesia, mau bermitra sama Indonesia, mau bekerja dengan saling menguntungkan. Ini sikap kita,” tambah Prabowo.
Namun, Prabowo mengingatkan keterbukaan Indonesia terhadap negara mana pun harus dipahami bahwa Indonesia saat ini sudah semakin matang atau dewasa dengan kebijakan-kebijakannya.
“Tapi semua pihak juga harus mengerti bahwa Indonesia sekarang sudah dewasa. Pemimpin-pemimpin Indonesia bukan pemimpin yang bodoh, bukan pemimpin yang naif, bukan pemimpin yang penakut,” katanya.
Prabowo mengatakan masih ada pihak-pihak yang memandang rendah Indonesia dan menganggap keramahan masyarakat sebagai sebuah kelemahan. Bahkan, menurutnya, muncul stereotip yang menyebut masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang santai, malas, dan gemar tidur. Padahal, kata dia, kenyataan menunjukkan rakyat Indonesia bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Memang ada pihak-pihak yang selalu memandang rendah bangsa Indonesia, yang selalu menganggap remeh bangsa Indonesia, yang selalu mengejek bangsa Indonesia di belakang punggung kita. Memang mungkin karena kebaikan bangsa Indonesia, keramahtamahan, bahwa bangsa kita begitu ramah, kita dinilai lemah. Kita dibilang bangsa yang santai, kita dibilang bangsa yang malas, bahwa rakyat Indonesia, para pribuminya hobinya tidur,” kata Prabowo.
“Padahal rakyat kita berjuang keras dari hari ke hari untuk mencari kehidupan yang layak. Mereka yang berlayar di laut mencari makan, mencari ikan itu mempertaruhkan nyawa. Di mana-mana rakyat kita kerja keras. Tapi kalau iklim itu begitu panas, ya kearifan nenek moyang mengajarkan kita hindari panas pada saat terik matahari,” tambah Prabowo.