JAKARTA - Salah satu pendiri Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP), Yan Sofyan Syafe'i, mengungkap sejarah awal berdirinya sekolah yang kini menjadi sorotan setelah temuan 995 pucuk senjata di lingkungan sekolah. Ratusan senjata api (senpi) itu ditemukan di dalam ruangan tertutup milik mantan ketua yayasan berinisial IWD.
Diketahui, Yan merupakan satu-satunya pendiri awal yayasan yang masih hidup. Dalam konferensi pers YHI-PP, Minggu (9/8/2026), dia menceritakan awal mula pendirian yayasan pada 1979.
Yan mengatakan, yayasan bermula dari kegiatan pengajian bersama sejumlah tokoh, termasuk KH Mawardi Labay. Dari kegiatan tersebut muncul gagasan untuk mendirikan sekolah.
Menurut dia, para pendiri kemudian menemui Adam Malik yang saat itu menjabat Wakil Presiden. Mereka mendapat arahan terkait pemanfaatan tanah di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
"Setelah itu mulailah kita buat yayasan itu dengan visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa," ujarnya.
Yan menuturkan, para pendiri juga berharap sekolah tersebut dapat melahirkan generasi yang beragama, berpendidikan, serta menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari.
Namun, setelah sekolah yang berdiri sejak 1979 itu kini menjadi sorotan karena temuan senjata dan barang lainnya, Yan mengaku sedih.
"Memang sangat sedih sekali karena apa? Karena betul-betul kita mendirikan sekolah itu betul-betul dengan rasa keinginan untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak bangsa yang saleh dan saleha," tuturnya.
"Mudah-mudahan itu semua bisa diselesaikan dengan cara yang sebaik mungkin," kata Yan.
Sementara itu, kuasa hukum YHI-PP, Hermawanto, menyebut persoalan yang terjadi saat ini berkaitan dengan upaya mengembalikan yayasan kepada tujuan awal pendiriannya. Hermawanto menyinggung sosok IWD yang menurut pihak yayasan bukan merupakan pendiri maupun bagian dari keluarga pendiri.
Dalam rilis yayasan, IWD disebut berada di YHI-PP sejak 30 September 2008. Yayasan juga menyebut IWD kemudian memasukkan istrinya, SSA, serta kakaknya, APK, ke dalam struktur yayasan. Pihak yayasan menduga kondisi tersebut membuat keluarga IWD memiliki posisi mayoritas dalam rapat pembina.
"Fakta hari ini sudah menunjukkan bahwa ada penyalahgunaan yayasan yang dilakukan oleh IWD yang potensial itu hanyalah untuk kepentingan pribadi dan kepentingan keluarganya," kata Hermawanto.
Hermawanto juga menyebut temuan senjata sebagai salah satu persoalan yang menurut pihak yayasan harus diusut. Dalam keterangannya, yayasan menyebut adanya dugaan penggunaan area sekolah sebagai gudang senjata yang diindikasikan berkaitan dengan perusahaan milik IWD.
Selain persoalan senjata, pihak yayasan juga menyinggung dugaan penggunaan kredit bank atas nama yayasan untuk membangun lapangan padel yang disebut dikelola keluarga IWD.
Yayasan menegaskan dugaan tersebut menjadi bagian dari alasan mereka meminta persoalan yang terjadi di lingkungan YHI-PP diungkap dan ditindaklanjuti. Di sisi lain, pihak yayasan membantah narasi bahwa persoalan yang terjadi merupakan sengketa antar-ahli waris pendiri. Mereka menyebut IWD bukan ahli waris pendiri yayasan.
Pihak yayasan juga membantah keberadaan senjata berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler menembak. Menurut mereka, sejak sekolah berdiri tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak di lingkungan sekolah.
Atas kondisi tersebut, YHI-PP memutuskan kegiatan belajar mengajar pada Senin-Jumat, 10-14 Agustus 2026, dilaksanakan secara daring atau Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
Keputusan itu disebut diambil untuk memberikan kesempatan kepada aparat kepolisian melakukan sterilisasi terhadap ruangan yang masih dicurigai menyimpan senjata atau barang terlarang lainnya.
(Arief Setyadi )