Jemmy juga menekankan pentingnya pembukaan akses jalan tersebut sebagai jalur logistik kemanusiaan.
"Jalan adalah urat nadi penanganan bencana. Ketika jalan terputus, bantuan ikut terhambat. Ketika akses kembali terbuka, harapan dapat bergerak menuju desa-desa terdampak," tegasnya.
Selain infrastruktur jalan, Kementerian PU berfokus pada penyediaan air bersih dan sanitasi untuk mencegah timbulnya krisis kesehatan di penampungan pengungsi. Jaringan perpipaan SPAM IKK Nangaba di Kabupaten Ende yang sempat rusak kini telah selesai diperbaiki dan kembali mengalirkan air.
Sementara di daerah terisolasi seperti Pulau Palue, pasokan tandon air dan pemeriksaan sumur bor terus dimaksimalkan.
Pemerintah juga memobilisasi tim teknis untuk memverifikasi keandalan struktur bangunan publik, seperti rumah sakit, sekolah, dan gedung pemerintah sebelum kembali digunakan.
Pemeriksaan awal dimulai dari fasilitas vital di Labuan Bajo, termasuk Rumah Sakit Komodo, sebelum diperluas ke wilayah Ruteng dan Nagekeo.
Di sisi lain, pemantauan ketat terhadap stabilitas bendungan dan perbaikan jaringan irigasi yang tertutup longsor—seperti pada Daerah Irigasi Wae Laku di Manggarai Timur—terus dilakukan demi menjaga ketahanan pangan masyarakat pascabencana.
Pemerintah berkomitmen agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Flores kelak tidak sekadar mengembalikan kondisi fisik bangunan, tetapi juga menerapkan standar ketahanan gempa yang lebih tinggi (build back better).
"Infrastruktur adalah jalan bagi negara untuk hadir, melindungi, dan memastikan bahwa masyarakat tidak berjalan sendirian menghadapi bencana," tandasnya.
(Fahmi Firdaus )