PAPUA – Sebanyak sembilan warga sipil di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Sembilan warga yang disandera seluruhnya perempuan.
"Informasi yang kami dapat dari anggota kami di Polsek Jila sudah ada nama-nama yang disandera berdasarkan informasi dari keluarga korban sudah ada nama sembilan orang. Rata rata korban berusia 13 sampai 17 tahun," ujar Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak dikutip, Kamis (20/8/2026).
Saat ini kata dia, Polres Mimika melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penebalan personel di Polsek Jila.
"Langkah berikutnya dengan melakukan olah TKP, kami meminta bantuan dari Brimob Batalyon B untuk mem-backup rekan-rekan kami di Polsek Jila,"pungkasnya.
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Abdul Haris Fatgehipon
Operasi Keamanan TNI-Polri di Papua Diperkuat
Sementara itu, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Abdul Haris Fatgehipon mengutuk keras aksi kekerasan pembunuhan 2 warga sipil dan penculikan 9 orang anak-anak dan ibu-ibu yang dilakukan KKB Papua.
Menurutnya, kekerasan terhadap masyarakat sipil merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, warga tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayang ancaman kelompok bersenjata.
"Perlu adanya ketegasan sikap pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat sipil," kata Abdul Haris.
Negara kata dia, memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi seluruh warga negara. Karena itu, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat sipil menjadi korban akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung di sejumlah wilayah Papua. "Kewajiban negara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia," tegasnya.
Dia juga mendorong peningkatan operasi keamanan yang melibatkan TNI dan Polri. Menurut dia, penguatan operasi diperlukan untuk memastikan kelompok bersenjata tidak semakin leluasa mengancam keselamatan masyarakat. "Operasi keamanan yang melibatkan Polri dan TNI harus ditingkatkan," ujarnya