El Nino Masih Bertahan, BMKG Ingatkan September Jadi Fase Kritis Karhutla

Binti Mufarida, Jurnalis
Jum'at 11 September 2026 13:08 WIB
Kebakaran Hutan dan Lahan (foto: dok ist)
Share :

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Kondisi cuaca kering yang masih dominan, pengaruh El Nino, serta tingginya jumlah titik panas (hotspot) menjadi faktor yang perlu terus diwaspadai seluruh pemangku kepentingan.

Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat tiga faktor utama yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni kondisi kering yang masih dominan, tingginya potensi karhutla terutama di Sumatera dan Kalimantan, serta terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah.

“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Selain itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal 2027. Dampaknya terlihat dari semakin panjangnya hari tanpa hujan di berbagai daerah. Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau, sementara hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas.

Lebih lanjut, Faisal menerangkan bahwa wilayah yang masih perlu mendapat perhatian utama meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

 

Selain peningkatan hotspot, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan yang berpotensi memengaruhi kualitas udara. Pemantauan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menunjukkan adanya peningkatan pada beberapa lokasi yang terdampak aktivitas karhutla.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan BMKG untuk mendukung penanganan karhutla adalah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, serta berbagai pihak terkait lainnya.

“OMC tidak hanya digunakan untuk mitigasi karhutla, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan nasional. Operasi dilaksanakan secara adaptif berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah,” jelas Faisal.

BMKG akan terus memperkuat layanan informasi cuaca, iklim, kualitas udara, dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta penanganan karhutla.

“BMKG siap terus memberikan dukungan informasi, peringatan dini, dan layanan OMC berbasis kondisi atmosfer terkini. Kami berharap informasi ini dapat memperkuat koordinasi dan langkah mitigasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” pungkasnya.
 

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya