JAKARTA - Ketua Umum KBPP Polri periode 2026-2031 AH Bimo Suryono menyoroti perjalanan panjang Suyudi Ario Seto yang ditempa melalui berbagai penugasan di lingkungan kepolisian. Mulai dari tingkat kewilayahan, reserse, Bareskrim Polri, kepemimpinan Polda, hingga pemberantasan narkotika melalui Badan Narkotika Nasional (BNN).
Bimo menilai pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kepemimpinan seorang perwira karena Suyudi telah menjalani berbagai fungsi dan tingkatan penugasan. Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah dipercaya menduduki sejumlah jabatan di tingkat kewilayahan hingga penegakan hukum.
“Perjalanan seorang pemimpin di kepolisian tentu tidak dibentuk dalam waktu singkat. Pengalaman memimpin wilayah, menghadapi masyarakat secara langsung, kemudian masuk dalam penegakan hukum hingga memimpin pada tingkat Polda dan BNN merupakan bekal yang sangat berharga,” kata Bimo, Sabtu (3/10/2026).
“Pernah menjadi Kapolsek Pasar Minggu, wilayah yang masyarakatnya heterogen dengan berbagai dinamika sosial. Pengalaman memimpin dari tingkat Polsek tentu menjadi bekal penting karena di sanalah seorang perwira benar-benar bersentuhan langsung dengan masyarakat dan memahami persoalan keamanan dari tingkat paling bawah,” ujarnya.
Karier Suyudi kemudian berlanjut ke sejumlah wilayah. Ia pernah menjabat Kapolres Bogor pada 2015, Wakapolres Metro Jakarta Barat dan Kapolresta Bogor Kota pada 2016, serta Kapolres Metro Jakarta Pusat pada 2017.
Pengalaman tersebut membuat Suyudi bersentuhan dengan karakter wilayah dan persoalan keamanan yang berbeda, termasuk Jakarta Pusat yang menjadi kawasan pusat pemerintahan, politik, ekonomi, serta berbagai kegiatan berskala nasional.
“Pemimpin Polri harus memahami apa yang dirasakan anggota di lapangan sekaligus memahami masyarakat yang dilayani. Pengalaman kewilayahan memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di belakang meja,” kata Bimo.
Karier Suyudi kemudian berlanjut di bidang penegakan hukum. Pada 2019, ia dipercaya menjabat Dirreskrimum Polda Metro Jaya. Setahun kemudian, ia menjadi Wadirtipidsiber Bareskrim Polri sebelum menjalankan tugas sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II Bareskrim Polri.
Bimo menilai perpaduan pengalaman kewilayahan dan reserse memberikan perspektif tersendiri bagi seorang pimpinan kepolisian.
“Polri tidak hanya dituntut menjaga keamanan, tetapi juga melakukan penegakan hukum secara profesional, transparan, dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,” ujarnya.
Pada 2023, Suyudi dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya. Setahun kemudian, ia mengemban jabatan Kapolda Banten. Menurut Bimo, pengalaman memimpin Polda menjadi bagian penting karena tanggung jawab seorang Kapolda mencakup pengamanan wilayah, pelayanan masyarakat, penegakan hukum, fungsi intelijen, hingga kesiapan personel menghadapi berbagai agenda nasional dan daerah.
“Memimpin sebuah Polda membutuhkan kemampuan mengelola organisasi sekaligus menjaga hubungan dengan masyarakat, pemerintah daerah, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan. Pengalaman seperti ini tentu menjadi bagian penting dalam pembentukan seorang pemimpin,” katanya.
Karier Suyudi kemudian memasuki fase berbeda pada 2025. Ia tercatat sebagai Pati Bareskrim Polri dalam penugasan luar struktur sebelum dipercaya menjadi Kepala BNN RI.
Bimo menilai pengalaman memimpin BNN memberikan dimensi tambahan dalam perjalanan kepemimpinan Suyudi. Sebab, persoalan narkotika tidak hanya berkaitan dengan penindakan, tetapi juga pencegahan, rehabilitasi, pemutusan jaringan, hingga koordinasi lintas lembaga.
“Narkotika merupakan ancaman serius bagi generasi bangsa. Pengalaman memimpin BNN tentu memperluas perspektif kepemimpinan karena yang dihadapi bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga pencegahan, rehabilitasi, dan bagaimana menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba,” tegas Bimo.
Kendati demikian, diakui Bimo, rekam jejak seorang pimpinan tidak semata-mata diukur dari banyaknya jabatan yang pernah diduduki. Menurutnya, hal terpenting adalah pengalaman yang diperoleh dari setiap penugasan dan bagaimana pengalaman tersebut digunakan ketika mengemban tanggung jawab lebih besar.
“Bagi saya, bukan soal panjangnya daftar jabatan. Yang penting adalah bagaimana pengalaman dari setiap jabatan itu menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi persoalan yang semakin kompleks,” katanya.
Bimo berharap kepemimpinan Polri ke depan tetap melanjutkan program yang telah memberikan manfaat sekaligus melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dia menilai tantangan Polri semakin kompleks. Selain kejahatan konvensional, kepolisian harus menghadapi kejahatan siber, narkotika, kejahatan ekonomi, hingga berbagai modus baru yang berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Di sisi lain, tuntutan masyarakat terhadap profesionalisme, transparansi, dan kualitas pelayanan kepolisian juga semakin tinggi. “Anggota yang bekerja baik harus dilindungi dan diperhatikan kesejahteraannya. Sebaliknya, kalau ada anggota yang mencederai kehormatan institusi, harus ada evaluasi dan tindakan. Dengan cara itulah kepercayaan masyarakat kepada Polri dapat terus diperkuat,” ujar Bimo.
Bimo berharap pengalaman panjang Suyudi, dari penugasan di tingkat Polsek hingga memimpin BNN, dapat menjadi modal dalam menghadapi tantangan kepolisian yang semakin kompleks.
“Kami keluarga besar KBPP Polri berharap kepemimpinan ke depan mampu membawa Polri semakin profesional, modern, tegas dalam penegakan hukum, tetapi tetap humanis dan dekat dengan masyarakat. Perjalanan dari tingkat Polsek, Polres, Polda hingga memimpin BNN merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk memahami institusi dari berbagai tingkatan,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )