Ia menilai proses penyetaraan pendidikan Gibran tidak masuk akal karena dilakukan dengan mencocokkan mata kuliah yang pernah diambil di luar negeri dengan kompetensi lulusan SMK di Indonesia.
“Tetapi sekali lagi, dari Kemendikdasmen mengatakan bahwa mereka menyetarakan dari mata kuliah-mata kuliah yang diambil oleh Gibran di UTS Insearch. Lalu mata kuliah itu disamakan dengan SMK Indonesia, maka diperoleh kemampuan yang setara dengan tamatan SMK minat keuangan dan akuntansi. Hal itu tidak masuk akal,” tuturnya.
(Rahman Asmardika)