Sementara itu, tiga partai yang dipimpin warga Arab di Israel berhasil memperoleh total 19 kursi. Perolehan tersebut meningkat signifikan dibandingkan pemilihan sebelumnya pada 2022.
Menurut Komite Pemilihan Pusat, hampir 840.000 orang memberikan suara untuk Ra'am dan Daftar Gabungan, koalisi tiga partai yang dipimpin warga Arab. Jumlah tersebut meningkat 64 persen dibandingkan pemilihan sebelumnya. Sehingga koalisi antara kelompok Eisenkot dan partai-partai Arab berpotensi menguasai 67 kursi di parlemen. Jumlah itu cukup untuk membentuk mayoritas.
Namun, bagi sebagian kalangan di Israel, kerja sama politik dengan partai-partai Arab masih menjadi hal yang sulit diterima. Sementara Netanyahu menuduh partai-partai Palestina-Israel telah "mencuri" pemilu dan menerima dana dari Qatar untuk melakukannya. Kendati Qatar membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari kampanye disinformasi.
Odeh mengatakan, kelompok sayap kanan Israel menggambarkan partisipasi warga Palestina-Israel dalam pemilu sebagai bentuk "terorisme elektoral". Mereka bahkan menyamakannya dengan serangan 7 Oktober, ketika pejuang yang dipimpin Hamas menyerbu wilayah selatan Israel, menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera ratusan lainnya.
"Suara warga Palestina-Israel" turut menjadi sasaran serangan karena kelompok tersebut memiliki posisi penting dalam menentukan apakah Eisenkot dapat membentuk pemerintahan, tambah Odeh.
(Arief Setyadi )