JAKARTA - Pemenuhan komponen cadangan yang akan membantu tentara sebagai komponen utama dinilai tidak harus melalui mekanisme wajib militer.
Menurut Peneliti Senior CSIS Edy Prasetyono, wajib militer hanyalah salah satu dari sekian pendekatan untuh membentuk komponen cadangan.
"Komponen cadangan bisa bersifat voluntary, dari civilians, dengan rekrutmen melalui pendaftaran atau otomatis diambil dari mantan prajurit atau melalui compulsary military service," kata Edy saat diskusi publik Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI: Perlukah Wajib Militer?, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/11/2007).
Wajib militer bagi seluruh warga negara, kata Edy, lazimnya diselenggarakan dengan memperhatikan adanya ancaman nyata terhadap pertahanan negara, dalam keadaan darurat, atau mempertimbangkan kalkulasi ketersediaan sumber-sumber nasional.
Karena itu, dia mengatakan sangat wajar ketika banyak orang mempertanyakan apakah sudah tepat Indonesia saat ini menerapkan wajib militer.
Menurut Edy, pertanyaan tersebut juga disebabkan karena ada kesan kompenen cadangan akan dibentuk dengan wajib militer. "Kompenen cadangan beda dengan wajib militer. Komponen cadangan memang harus dibentuk, tetapi bukan suatu keharusan," jelasnya.
Edy mengungkapkan, banyak negara mengembangkan kekuatan cadangan yang bersifat voluntary dengan membuka pendaftaran menjadi anggota komponen cadangan. "Tetapi yang pasti hampir semua negara, dalam keadaan darurat untuk membela negara, memberlakukan sistem wajib militer, sistem konskripsi, atau kewajiban milisi bela negara," tuturnya.
Direktur Jenderal (Dirjen) Strategi Pertahanan Dephan Mayjen TNI Dadi Susanto menyatakan hampir semua negara di Asia memiliki komponen cadangan. "Hanya saja, jumlahnya bervariasi tergantung besar atau kecinya kepentingan negara tersebut," tuturnya.
Dadi menjelaskan, komponen cadangan bukan memaksa semua warga negara untuk wajib militer. Sebab tidak semua warga negara bisa masuk jadi kompnen cadangan.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto yang juga Mantan Panglima ABRI menyatakan pemerintah perlu mengevaluasi dampak negatif dari komponen cadangan. "Terutama mengenai latihan dasar kemiliteran," ujarnya.
Wiranto mengungkapkan, komponen cadangan yang memperkuat sistem pertahanan diperlukan, agar bangsa Indonesia disegani dan punya posisi tawar yang tinggi dengan negara lain.
"Kalau kita kecil-kecil saja, nrimo-nrimo saja ya akan ditempelengi terus," tandasnya.
(Nurfajri Budi Nugroho)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.