nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Singkatan Bandara Soetta Lecehkan Proklamator"

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Rabu 05 Januari 2011 08:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2011 01 05 337 410506 tuGTowA0OK.jpg ILustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Polemik penggunaan bahasa asing dalam pidato Presiden Susilo bambang Yudhoyono (SBY) hendaknya dijadikan momentum dalam memperbaiki penggunaan bahasa bagi segenap bangsa Indonesia.

Hal itu karena masih banyak istilah dan singkatan yang sejatinya tidak tepat digunakan serta melenceng dari makna asalnya. Salah satunya adalah penggunaan kata Bandara Soetta untuk menyingkat nama Bandara Soekarno-Hatta.

“Singkatan itu kan menghina dua proklamator, apa arti kata Soetta itu? Itu penghinaan pada Republik ini, saya sangat tersinggung dengan singkatan itu,” protes sejarawan Anhar Gonggong saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Rabu (5/1/2011).

Penyebutan moda angkutan umum busway serta penggantian sebutan polisi dengan police juga sangat tidak tepat menurut dia. “Ini negeri orang Inggris atau negeri kita? Jadi amburadul penggunaan bahas kita, ditambah presidennya sendiri seperti itu,” sesalnya.

Bahasa menurut Anhar adalah cerminan karakter seseorang serta suatu bangsa. Apabila dalam menggunakan bahasa sendiri saja tidak becus, maka akan sulit menampakkan karakter seseorang atau suatu bangsa. Oleh karena itu diperlukan revitalisasi penggunaan bahasa dengan baik dan benar.

“Karakter itu salah satu penampakannya dari bahasa, jadi jangan anggap bahasa sekadar alat komunikasi. Ini pekerjaan rumah besar, pusat bahasa harus mengerti betul dan harus berani melakukan kritik, meski ke presiden sekalipun, demi bangsa dan negara,” tandasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini