Share

Pendidikan Formal Roket Indonesia Masih Minim

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 15 Agustus 2014 13:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 15 373 1024956 G5wiEemF3Z.jpg Para peserta Kompetisi Muatan Roket Indonesia merupakan mahasiswa lintas jurusan, dan hanya sedikit yang mendapat pendidikan formal tentang roket.

JAKARTA - Sejak Rabu, 13 Agustus hingga Sabtu, 16 Agustus besok, 74 roket dari 12 perguruan tinggi di Indonesia akan berlaga dalam Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo) dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) 2014. Para peserta merupakan mahasiswa lintas jurusan, dan hanya sedikit yang mendapat pendidikan formal tentang roket.

Kompetisi yang dihelat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)ini, kata Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Dr. Rika Andiarti, menunjukkan bahwa mahasiswa yang rata-rata bukan berasal dari fakultas astronomi bisa juga merancang roket.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Pendidikan formal kita masih sedikit yang memiliki fakultas astronomi atau mempelajari tentang antariksa. Komurindo dan Kombat ini menjadi sarana bagai mahasiswa untuk membangkitkan kreativitas mereka di bidang teknologi antariksa," kata Rika, seperti dilansir laman UMY, Jumat (15/8/2014).

Rika berharap, Komurindo dan Kombat bisa menjadi sarana sinergi Lapan, mahasiswa dan masyarakat luas. "Kreativitas mahasiswa mengenai teknologi antariksa akan mendukung kinerja Lapan baik di tingkat universitas maupun masyarakat. Jadi dengan begitu, akan ada sinergi antara tiga kelompok ini," imbuhnya.

Sementara menurut  Ketua Dewan Juri Komurindo dan Kombat 2014 Dr. Endra Pitowarno, kedua lomba itu merupakan sarana menarik minat generasi muda mengenai kedirgantaraan. Pasalnya, Indonesia tertinggal dalam dunia dirgantara karena belum banyaknya ilmuwan muda Tanah Air berkecimpung dalam bidang tersebut.

"Negara-negara lain sudah meluncurkan roket dan satelit ciptaannya sendiri. Sementara lembaga antariksa milik Indonesia, masih sebatas memiliki gambaran kasar roket dan satelit yang ingin diluncurkannya," tutur Endra.

Endra menilai, Komurindo dan Kombat dapat menjaring minat banyak generasi muda dalam bidang roket, satelit dan riset mengenai langit dan atmosfer. Dengan begitu, para peserta lomba dapat bercerita banyak tentang roket dan balon atmosfer ke masyarakat.

"Ada 12 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi ini. Tiga di antaranya dari luar Jawa, yakni dua dari Sumatra Utara, dan satu dari Mataram, Lombok. Kompetisi ini juga membuktikan bahwa para mahasiswa itu memang tidak mengenal waktu untuk belajar," kata Endra.

Komurindo dan Kombat merupakan lomba yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pemrakarsa kompetisi serta Lapan sebagai kontributor penyiapan roket peluncur muatan serta balon untuk kompetisi Kombat. Tahun ini, UMY menjadi tuan rumah (host) penyelenggara dengan Pemerintah Kabupaten Kebumen sebagai co-host dan pemilik wilayah pelaksanaan kompetisi.

 

Selain itu, kedua lomba juga melibatkan Dislitbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) sebagai kontributor penyedia tempat pelaksanaan kompetisi, TNI Angkatan Udara sebagai pengatur lalu lintas udara dan izin peluncuran roket serta balon untuk Kombat.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini