Polisi "Radikal" Karena Merasa Lebih Tinggi dari TNI

Arief Setyadi , Okezone · Selasa 23 September 2014 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 23 339 1042945 Lg3RRwTQAt.jpg Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Pengamat Kepolisian, Bambang Widodo Umar, menyatakan perlu adanya langkah antisipatif untuk menghindari terjadinya bentrokan TNI-Polri yang berkepanjangan. Ia mengusulkan agar Polri sebaiknya berada di bawah Kementerian sama halnya dengan TNI.

"Dengan kondisi saat ini Polri itu merasa lebih tinggi, dan ini memicu kecemburuan dari TNI," katanya saat berbincang dengan Okezone, Senin (22/9/2014).

Bambang menambahkan, kalau TNI dan Polri disatukan kembali seperti jaman dulu, itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru Polri dikhawatirkan malah kembali akan bertindak layaknya militer.

Jika di bawah Kementerian, misalnya Kementerian Keamanan Dalam Negeri sebagaimana diusulkan oleh mantan Kasad Letjen (purn) Agus Wijodjo itu bisa lebih baik untuk mengatasi persoalan ini.

"Antara Kemenhan dan Kementerian Keamanan Dalam Negeri kan merupakan dinas kerja yang bisa berkordinasi secara sistemik, tidak seperti sekarang polisi merasa lebih tinggi karena dia langsung berada di bawah presiden," tukasnya.

Seperti diketahui, bentrok TNI dengan anggota Brimob kembali terjadi di Batam, Kepulauan Riau. Empat anggota Batalyon Yonif 134 Tuah Sakti menjadi korban tembak dalam insiden tersebut.

Kejadian diduga bermula dari penggrebekan lokasi penimbunan solar. TNI-Polri saat ini masih mendalami insiden tersebut.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini