Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berburu Roti di Negeri Pulau untuk Jamuan Natal

Rus Akbar , Jurnalis-Minggu, 21 Desember 2014 |12:08 WIB
Berburu Roti di Negeri Pulau untuk Jamuan Natal
Berburu Roti di Negeri Pulau untuk Jamuan Natal (distribusi roti marie di Mentawai/Foto: Rus Akbar,Okezone)
A
A
A

PADANG - Wajah sumringah Rosetta (32) warga Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai, Sumatera Barat terpancar. Kelegaan hatinya terlihat saat memboyong satu kaleng roti marie berukuran 500 gram dengan gerobak sorong ke daerahnya.

Itulah tradisi masyarakat di negeri kepulauan di Mentawai menjelang perayaan natal dan tahun baru. “Saya lega, sebab bisa membeli roti kaleng ini satu kotak. Kami bisa merayakan dengan bahagia,” ujarnya.

Ternyata Rosetta tidak sendirian membeli roti ini di toko-toko daerah Muara Siberut yang berjarak dua jam jalan kaki.

“Kami ada lima orang, tadi jual sayur ke sini dan hasil penjualan sayur itulah kami beli roti untuk keluarga, apalagi sebenar lagi kita merayakan natal dan tahun baru,” tuturnya.

Meski keringat bercucuran di wajahnya dan setiap jalan mereka berhenti sejenak untuk mengendurkan kaki, tapi mereka tidak pasrah begitu saja. “Mau bagaimana lagi kalau ojek kita tumpangi harganya malah, bisa-bisa tekor jualan kita, ditambah jalan di sini banyak lubangnya, bisa kita sakit-sakit sampai di rumah,” katanya.

Tradisi memberi membeli roti, itu sudah sejak lama. Biasanya setiap keluarga yang mau merayakan natal selalu tersedia roti tersebut. Hal itu bisa kita temui saat bertamu di setiap keluarga, roti marie atau roti kabin selalu menjadi sajian khas saat natal.

Kepulauan Mentawai memang mayoritas beragama Kristen dan Katolik, nuansa natal begitu terasa dibanding dengan di Kota Padang sebagai ibu provinsi kabupaten tersebut yang mayoritas muslim.

“Awalnya, roti ini diperkenalkan oleh para pendeta kristen dari Jerman, atau dikenal para zending yang menyiarkan agama di tempat kita,” ujar Maruli Sakerebau, mantan penatua Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) Maileppet.

Konon, roti marie yang berbentuk lingkaran itu dulu dipakai untuk perjamuan kudus dan kalau Natal dan Tahun Baru di gereja untuk makan bersama. “Dulu kita hanya bisa mencicipinya hanya di gereja, soalnya tidak ada yang menjual di sini,” katanya.

Sekarang setiap rumah di Maileppet pasti menyediakan bahkan ada dua kaleng, satu roti marie yang berbentuk roti dan satu lagi roti kabin yang dikasih gula. Seiring perkembangan zaman, transportasi lancar dan para pedagang sudah mulai berdatangan ke Mentawai akhirnya itu diperjualbelikan.

“Tahun 1980, roti yang dianggap ‘sakral’ tersebut sudah menjadi umum. Warga awalnya satu-satu keluarga yang membelinya, misalkan di desa saya ini yang memilik 500 kepala keluarga, mungkin hanya dua atau lima yang membeli roti tersebut, tapi sekarang sudah menjamur,” tuturnya.

Untuk satu kecamatan saja, di perkirakan ada ribuan kaleng roti diperdagangkan. Pasalnya, menjelang natal roti itu laris manis. “Kita biasanya menjual 50 kaleng, itu terjual semuanya,” kata Jop Siririu, seorang pedagang yang roti tersebut di daerah Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara.

Di daerah Sikabaluan, ada sekira 20 orang pedagang. Setiap pedagang itu menjual roti 50 hingga 100 kaleng yang terjual. “Satu kaleng kita jual sebanyak Rp180 ribu, dan saat ini kita punya stok sebanyak 50 kaleng,” tuturnya.

Itu baru di Kecamatan Siberut Utara, untuk pulau Siberut saja ada lima kecamatan, Siberut Utara, Siberut Barat Daya, Siberut Barat, Siberut Tengah dan Siberut Selatan.

Belum lagi di Pulau Sipora dan Pulau Pagai Utara Selatan dengan pendudukan yang padat. Setiap toko yang ada di daerah tersebut selalu menawarkan roti kaleng itu.

(Kemas Irawan Nurrachman)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement