Tsunami Berlalu, Banyak Potensi di Aceh Belum Tergarap

Salman Mardira, Okezone · Jum'at 26 Desember 2014 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 26 340 1084210 tsunami-berlalu-banyak-potensi-di-aceh-belum-tergarap-1FAiRSI66d.jpg Bangunan rusak dihantam tsunami di Banda Aceh (Salman Mardira/Okezone)

BANDA ACEH - Pertumbuhan ekonomi masih menjadi masalah utama Aceh setelah 10 tahun tsunami berlalu. Banyak potensi yang seharusnya menjadi modal untuk melahirkan investasi, justru tidak tergarap maksimal.

Seorang pelaku usaha perhotelan di Banda Aceh, TAF Haikal, mengatakan, hanya perekonomian sektor jasa paling banyak tumbuh setelah tsunami. Dia mencontohkan bisnis perhotelan, konstruksi, travel, wisata, dan sejenisnya sekarang kian pesat.

Sementara sektor lain yang tak kalah penting seperti pertanian, perikanan, perdagangan, kata TAF Haikal, justru tak terlalu signifikan geliatnya. “Pemerintah perlu menstimulan lagi sektor-sektor ini, jangan hanya jasa yang difokuskan,” ujar.

Upaya pemerintah mengundang investor dari luar dinilai belum membuahkan hasil, karena hingga kini tak terlihat pertumbuhan industri yang bisa menunjang perekonomian daerah. “Investor yang masuk hanya di perkebunan, pertambangan. Ini sebelum tsunami juga sudah ada,” sebut TAF Haikal.

Menurutnya, belum terlihat upaya serius pemerintah dalam mengembangkan investasi swasta di Aceh setelah tsunami, meski potensinya besar sekali. Dicontohkannya, luas laut Aceh yang mencapai 200 mil, jika digarap serius bisa menampung banyak tenaga kerja.

Aceh juga dinilai memiliki potensi investasi besar di sektor energi, karena ada banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) di sini. “DAS ini kalau digarap bisa menghasilkan energi listrik katakanlah 3.500 mega watt, bisa menutup krisis listrik di Sumatera selama ini.”

Aceh setelah konflik dan tsunami memiliki peluang besar untuk menumbuhkan perekonomiannya lebih baik lagi. Dikarenakan ada banyak sumber pendanaan, salah satunya lewat dana otonomi khusus sekira Rp6 triliun yang setiap tahunnya dikucurkan oleh pemerintah pusat.

Sayangnya, hingga kini pertumbuhan masih melempem. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Aceh dengan minyak dan gas hanya 4,18 persen. Sedangkan tanpa migas 5,36 persen. Jauh dari target yakni 6,5 persen. Pada triwulan III 2014, pertumbuhannya juga mengecewakan, dengan migas hanya tumbuh 0,55 persen, sementara tanpa migas pertumbuhannya 1,79 persen.

Setelah tsunami menerjang Aceh, berbagai bencana juga terus menggerogoti provinsi itu. Salah satunya banjir dan tanah longsor, yang diklaim terjadi akibat banyaknya perambahan hutan setelah konflik. Bencana ini ikut berkontribusi atas rendahnya pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah sektor pertanian yang pada triwulan III lalu pertumbuhannya menurun 0,72 persen.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi di provinsi yang dipimpinnya belum membanggakan. Itu terjadi karena masih ada regulasi turunan kewenangan dari Undang-Undang Pemerintah Aceh yang belum diselesaikan oleh Pemerintah Pusat, sehingga menghambat pihaknya bekerja maksimal. “Kami minta itu segera diselesaikan,” katanya.

Pemerintah Aceh, kata dia, terus bekerja memperbaiki segala sektor ekonomi termasuk pertanian yang sudah dimasukkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah pemerintahannya.

[Bersambung]

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini